Bersatu Memuliakan Kemanusiaan

   •    Rabu, 06 Sep 2017 08:03 WIB
rohingya
Bersatu Memuliakan Kemanusiaan
Bersatu Memuliakan Kemanusiaan

Indonesia sebagai negara yang menjunjung nilai-nilai kemanusiaan telah menunjukkan upaya untuk menghentikan kejahatan kemanusiaan yang dialami etnik Rohingya di Myanmar. Itu merupakan pengejawantahan sila kemanusiaan yang adil dan beradab dalam dasar negara kita.

Indonesia telah mengambil inisiatif sebagai negara pertama yang datang dan melakukan diplomasi khusus terkait dengan kejahatan kemanusiaan itu. Presiden Joko Widodo secara khusus mengutus Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi untuk melakukan diplomasi maraton dengan otoritas di Myanmar, termasuk pemimpin de facto Myanmar Aung Saan Suu Kyi.

Myanmar menyambutnya dengan positif dan berjanji akan segera mengakhiri krisis kemanusiaan di sana. Indonesia pun dimasukkan ke mekanisme penyaluran bantuan kemanusiaan. Kita, sebagai bangsa, mendapatkan kepercayaan Myanmar.

Langkah Indonesia menegaskan kepada komunitas internasional bahwa kekerasan terhadap kemanusiaan tidak seharusnya mendapat tempat. Segera sudahi, cari solusi jangka panjang untuk menghentikan lingkaran kekerasan serta bantu pemulihannya.

Langkah tanggap dan tegas pemerintah sudah semestinya mendapat dukungan para pemangku kepentingan negeri ini, termasuk seluruh rakyat Indonesia. Masyarakat kita sebagai bagian dari komunitas global sudah sepatutnya turut menegakkan nilai kemanusiaan di Rakhine.

Akan tetapi, apa yang terjadi? Isu Rohingya di media sosial lebih besar dikaitkan dengan pemerintah Indonesia ketimbang gerakan kemanusiaan untuk membantu. Bahkan konyolnya, ada juga yang mengajak untuk mengepung Borobudur sebagai aksi simpati bela muslim Rohingya.

Entah apa yang ada di pikiran mereka itu. Candi Borobudur merupakan tempat bersejarah dan warisan berharga Indonesia yang kelestariannya harus dijaga. Kasus penindasan terhadap etnik muslim Rohingya di Rakhine, Myanmar, tidak ada kaitannya dengan agama tertentu.

Ada niat buruk untuk menarik peristiwa di Myanmar ke Indonesia dalam bentuk konflik agama. Padahal, agama apa pun menolak kekerasan kepada sesama manusia. Ajaran agama menyebutkan membunuh satu manusia setara dengan membunuh seluruh manusia.

Itulah sebabnya Paus Fransiskus mengecam kekejaman di Myanmar. Komunitas umat Buddha di Indonesia pun melontarkan kecaman senada. Belum lagi kabar-kabar hoaks yang berseliweran di medsos, semisal foto yang diunggah politikus Partai Keadilan Sejahtera Tifatul Sembiring, yang jelas menyesatkan, dari seorang yang pernah menjabat menteri komunikasi dan informatika.

Terang benderang foto itu merupakan rekayasa digital dari peristiwa di tempat lain di masa yang berbeda pula. Tifatul memang akhirnya meminta maaf dan menghapus foto hoaks tersebut. Tentu akan lebih mulia jika semua pihak bahu-membahu bersama pemerintah, serta 11 LSM dari sejumlah ormas, antara lain dari NU, Muhammadiyah, dan Walubi, membantu warga Rakhine. Wadahnya sudah ada, penyalurannya pun jelas.

Tunjukkanlah bahwa kita sebagai bangsa yang bersatu berada di belakang Menlu Retno yang tengah berpeluh. Upaya Menlu tidak berhenti di Myanmar semata. Dari Myanmar, Menlu akan ke Dhaka, Bangladesh, untuk menyiapkan bantuan kemanusiaan bagi pengungsi Rakhine di negeri itu.

Bangsa ini harus bersatu padu memuliakan kemanusiaan. Apa pun yang kita lakukan untuk memuliakan kemanusiaan di Rakhine ialah atas nama Indonesia. Janganlah semangat bersatu mewujudkan kemanusiaan bagi Rohingya dicederai kepentingan politik yang justru bisa memecah belah bangsa. Jangan sampai.