Bedah Editorial MI: Khayalan Sesat Indonesia Punah

   •    Rabu, 19 Dec 2018 08:51 WIB
prabowo subianto
Bedah Editorial MI: Khayalan Sesat Indonesia Punah
editorial media indonesia

MEMBAYANGKAN Indonesia bubar saja sudah mengerikan. Lalu perasaan apa lagi yang bisa kita ekspresikan saat membayangkan Indonesia bakal punah? Sungguh sebuah narasi pesimisme akut yang semestinya tak boleh terlontar dari siapa pun yang mengaku warga negara Indonesia.

Akan tetapi, entah kebetulan entah memang sudah tabiat, kata-kata 'bubar' dan 'punah' tersebut justru diungkapkan Prabowo Subianto yang notabene saat ini berstatus calon presiden untuk Pemilihan Presiden 2019. Ia konsisten, tapi sayangnya konsisten pada hal yang menuai kontroversi.

Pada Maret 2018, Prabowo yang saat itu belum resmi menjadi capres, dengan mengutip sebuah novel fiksi, memprediksi Indonesia akan bubar di 2030. Kini, pada Desember 2018, ia lebih 'maju' lagi dengan menyebut Indonesia bakal punah kalau ia dan pasangannya, Sandiaga Uno, kalah dalam kontestasi pilpres pada April 2019 mendatang. Alamak.

Menjadi seorang calon presiden tentu bukan sembarang status. Hanya orang-orang terpilih yang bisa mencapai level status seperti itu. Banyak orang bahkan bermimpi-mimpi berada di posisi itu. Akal sehat kita bicara, orang yang terpilih menjadi capres mestinya ialah orang-orang yang punya kapabilitas, integritas, dan tentu saja sehat nalar.

Lantas, mengapa malah narasi-narasi lemah yang mengancam dan menyesatkan seperti itu yang terucap dari mulut orang yang terpilih? Bukankah dia calon pemimpin yang seharusnya memupuk optimisme rakyatnya, alih-alih menebar pesimisme dan gambaran buram masa depan bangsa?

Oke, kalau itu dianggap hanya sebuah strategi demi memenangi laga melawan petahana. Namun, harus separah itukah perspektif yang ia lemparkan kepada masyarakat, hanya agar ia mendapat simpati dan dipilih saat pemungutan suara nanti? Atau sesungguhnya ia sedang kehabisan gagasan positif sehingga lebih memilih menggunakan kalimat dan diksi yang terkesan mengancam dan menakuti masyarakat.

Apa pun motivasi di balik itu, pemilihan diksi 'bubar', apalagi 'punah', jelas sebuah kesalahan yang fatal. Benar yang dikatakan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto saat merespons pernyataan kontroversial Prabowo tersebut. Ia menyebut punahnya sebuah negara tidak mungkin mendadak. Kondisi itu pasti diawali dengan gejala, indikasi, atau adanya peningkatan eskalasi yang sangat serius seperti mengancam eksistensi negara.

Saat ini, seperti apakah kondisi dan situasi Indonesia? Nyatanya baik-baik saja. Stabilitas politik dan keamanan relatif terjaga. Skor indeks demokrasi terus meningkat, yang mengisyaratkan arah demokrasi kita sudah berjalan di rel yang benar. Bahkan, di bidang ekonomi, Indonesia masih menjadi negara tujuan investasi favorit. Itu semua mengonfirmasikan sesungguhnya bangsa ini sangat jauh dari khayalan kepunahan yang diyakini Prabowo.

Namun, pada akhirnya kita kembalikan kepada rakyat, apakah mau memilih terhasut oleh khayalan dan terbelenggu oleh ketakutan atau memilih bersama-sama membungkus harapan. Kita mesti ingat, negeri ini punya cita-cita besar yang mesti kita gapai dengan lompatan-lompatan tinggi.

Itu hanya bisa menjadi kenyataan bila pemimpinnya tekun merawat asa dengan optimisme. Bukan pemimpin yang gemar memproduksi narasi ketakutan dengan membangun persepsi publik tidak berdasarkan kebenaran, tapi bersandarkan fiksi, khayalan, atau imajinasi.