Memastikan Investasi Saudi

   •    Jumat, 03 Mar 2017 07:59 WIB
Memastikan Investasi Saudi
Memastikan Investasi Saudi

LAUTAN antusiasme menyambut kedatangan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud di Indonesia. Masyarakat, dari anak-anak sekolah hingga o­rang dewasa, berjejal-jejal berdiri di pinggir jalan untuk melihat iring-iringan langsung pemimpin negara kaya minyak itu.

Kunjungan itu sangat spesial, bahkan bisa dibilang bersejarah karena merupakan kunjungan pertama raja Saudi ke Indonesia setelah 47 tahun.

Tidak mengherankan jika kunjungan Raja Salman menjadi topik pembicaraan dan mendapat sambutan hangat, baik dari negara maupun rakyat Indonesia. Selain waktu kunjungan yang mencapai sembilan hari, Raja Salman membawa sekitar 1.500 anggota delegasi.

Perlengkapan yang dibawa pun tak tanggung-tanggung, berupa kargo khusus mencapai 450 ton. Yang lebih substansial ialah lengkapnya rombongan Raja Salman sesungguhnya menunjukkan kesiapan untuk mengambil berbagai kebijakan penting dan strategis.

Penandatanganan 11 nota kesepahaman antara pemerintah Indonesia dan Arab Saudi yang mencakup ekonomi, kebudayaan, usaha kecil dan menengah, serta industri aeronautika menjadi babak baru kerja sama kedua negara. Potensi investasi yang disepakati senilai Rp93 triliun, yang mencakup kesepakatan dengan perusahaan minyak Arab Saudi, Aramco, senilai US$6 miliar atau Rp80 triliun terkait dengan program refining development masterplan di Cilacap antara Pertamina dan Aramco.

Selain itu, Indonesia sepakat untuk menerima kucuran dana US$1 miliar atau Rp13 triliun dari Saudi Fund Deve­lopment untuk keperluan pembangunan infrastruktur, air minum, dan perumahan. Meskipun tidak bisa dibilang kecil, nilai kerja sama itu masih jauh ketimbang ingar-bingar ekspektasi pemerintah bahwa investasi Arab Saudi untuk Indonesia bisa jadi mencapai US$25 miliar atau Rp333 triliun.

Namun, angka tersebut tetap tergolong fantastis karena selama ini Arab Saudi bukanlah investor kakap di Indonesia. Pada 2016 realisasi investasi Arab Saudi hanya mencapai US$900 ribu, di bawah Mali yang berinvestasi US$1,1 juta.

Kita tentu berharap kesepakatan terus berlanjut dan merambah ke bidang lain di masa depan. Apalagi, Arab Saudi juga tengah melakukan diversifikasi investasi, yang sebelumnya berorientasi pada perminyakan kini mulai merambah sektor lain.

Juga mesti dipahami, di tengah segala kemewahan yang ditunjukkan Raja Salman di Indonesia, ternyata kondisi ekonomi mereka jauh lebih berat daripada Indonesia. Dari statistik anggaran yang dikeluarkan The Economist, posisi keuangan Arab Saudi sedang mengalami defisit 11,7%, atau US$98 miliar, akibat jatuhnya harga minyak.

Terlepas dari itu, kita harus memastikan bahwa investasi Saudi betul-betul terealisasi, bukan berhenti di atas kertas belaka. Yang juga tak boleh dilupakan ialah perkara buruh migran Indonesia di Arab Saudi. Kemarin, kaum perempuan berunjuk rasa menuntut Saudi memperbaiki perlakuan terhadap buruh migran. Mereka menuntut Saudi membebaskan Rukmini, Sumartini, Warnah, dan buruh migran lain yang terancam hukuman di Saudi.

Tuntutan yang kurang lebih sama sebetulnya disuarakan Ketua DPR Setya Novanto saat menerima kunjungan Raja Salman ke gedung parlemen, kemarin. Namun, aksi kaum perempuan itu dibubarkan aparat.

Yang tak kalah menariknya ialah pertemuan Raja Salman dengan para tokoh Islam di Tanah Air. Dalam pertemuan itu dibicarakan bagaimana Indonesia dan Saudi serta negara-negara Islam lainnya bersama-sama menampakkan wajah Islam yang ramah, bukan yang marah.

Intinya, rakyat menginginkan pertemuan Presiden Joko Widodo dan Raja Salman ditindaklanjuti dengan kerja sama yang nyata, berdampak bagi kesejahteraan kedua negara dan rakyat. Kita mesti memastikan bahwa kunjungan Raja Salman bukan sekadar euforia seremonial.