Irman Minta Pemindai Buatan Johannes Marliem Diprioritaskan

Damar Iradat    •    Jumat, 13 Oct 2017 20:00 WIB
korupsi e-ktp
Irman Minta Pemindai Buatan Johannes Marliem Diprioritaskan
Terdakwa kasus korupsi KTP-el Irman (batik merah) dan Sugiharto (batik kuning) saat menunggu sidang lanjutan dengan agenda pembacaan vonis di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (20/7/2017). Foto: MI/Bary Fathahilah

Metrotvnews.com, Jakarta: Andi Agustinus alias Andi Narogong, pengusaha pemenang tender proyek pengadaan kartu tanda penduduk elektronik (KTP-el), meminta Tim Fatmawati menggunakan produk automated fingerprint identification sysem (AFIS) merek L-1 milik perusahaan Johannes Marliem. Permintaan itu disebut perintah langsung dari Irman, salah satu terdakwa korupsi KTP-el.

Pernyataan ini ditegaskan karyawan PT Java Trade Jimmy Iskandar Tedjasusila alias Bobby saat bersaksi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta.

Awalnya, Bobby ditanya oleh hakim soal penggunaan produk AFIS milik perusahaan Johannes Marliem. Hakim juga sempat membacakan keterangan Bobby dalam berita acara pemeriksaan (BAP) terkait pembahasan KTP-el di Ruko Fatmawati, Jakarta Selatan.

"Sempat disebutkan ada peran 'bapake'," kata hakim membacakan BAP milik Bobby di Pengadilan Tipikor, Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat, 13 Oktober 2017.

Bobby kemudian mengatakan ia sempat menyampaikan pembicaraan antara Andi dengan Johanes Richard Tanjaya alias Johanes Tan. Namun, ia tidak mendengar sendiri percakapan tersebut. Johanes Tan adalah salah satu anggota tim IT yang ditunjuk sebagai pelaksana pengadaan KTP-el.

"Saat itu tidak dengar langsung. Tapi dari Johanes Tan, permintaan Pak Irman melalui Andi Narogong untuk tetap memakai L-1. Sidik jari," ungkapnya.

Hakim kemudian mencecar Bobby soal sosok yang dimaksud 'bapake' dalam pembicaraan tersebut. "Bapake itu sepengetahuan saya adalah Pak Irman," kata Bobby.

Baca: Ganjar Dicecar Proyek KTP-el `Milik` Partai Tertentu

Pernyataan Bobby memperkuat kesaksian Johanes Tan pada 29 September lalu. Dalam kesaksiannya di persidangan Andi Narogong, ia menyatakan pengerjaan proyek KTP-el menggunakan produk Automated Finger Print Identification System (AFIS) merek L-1 milik Johannes Marliem. Menurutnya, permintaan datang dari Irman.

Namun, saat diuji coba, produk L-1 tak dapat terintegrasi dengan sistem administrasi data kependudukan  (SIAK). Menurutnya, produk tersebut kalah kualitas dengan produk AFIS merek lainnya. Johanes lantas mengusulkan agar tidak menggunakan produk L-1.

Alih-alih usulnya diterima, Johanes malah dimarahi oleh Irman. "Saya sampai tanya, kenapa saya diginikan? Saya kan mau yang terbaik. Saya diminta jaga barang, tapi tidak ada bukti yang meyakinkan," kata dia.




(UWA)