Masyarakat Andalan Pencegahan IS

Golda Eksa    •    Senin, 19 Jun 2017 07:48 WIB
terorismeisis
Masyarakat Andalan Pencegahan IS
Kepala BNPT Komjen Suhardi Alius. Foto: MI/Rommy Pujianto.

Metrotvnews.com, Jakarta: Peran serta masyarakat sangat dibutuhkan untuk mencegah berkembangnya kelompok radikal Islamic State (IS). Meski secara persentase jumlah pengikut kelompok tersebut yang tersebar di beberapa daerah di Tanah Air tergolong kecil, fakta tersebut tidak boleh disepelekan.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Suhardi Alius mengatakan, semua pihak harus mewaspadai aktivitas kelompok radikal yang terafiliasi IS, khususnya bagi masyarakat silent majority. Dia pun membenarkan pernyataan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo perihal adanya 16 wilayah di Indonesia yang menjadi basis IS.

"Namun, 16 titik itu minimal, ya. Ini bisa lebih. Kenapa? Karena kita telah memantau pelaku-pelaku dan jaringannya," ujar Suhardi ketika dihubungi, Sabtu 17 Juni 2017.

Suhardi mengaku, pihaknya belum bisa mengambil tindakan, walaupun telah mengetahui lokasi dan identitas anggota IS. Upaya tegas hanya bisa dilakukan apabila kelompok tersebut telah berbuat sesuatu yang dinilai melanggar hukum.

"Oleh karena itu, kita membutuhkan adanya revisi UU (15/2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme). Sekarang ini kita hanya bisa mencegah dengan bantuan masyarakat yang mau memberikan informasi."

Dalam pemantauan itu, lanjut dia, salah satu kelompok yang terafiliasi IS diketahui sebagai jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Bandung Barat. Kelompok itu pula yang melancarkan teror bom di Kampung Melayu, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu.

Pengamat terorisme Al Chaidar membeberkan hasil penelitiannya, yakni ada 17 daerah yang menjadi sel-sel IS di Indonesia. Kelompok-kelompok itu saat ini masih tertidur dan menunggu waktu untuk melancarkan aksi radikalnya.

Basis IS itu berada di wilayah Banten, Bekasi, Tangerang, Bandung, Sukabumi, Purwakarta, Ciamis, Banjar, Cilacap, Medan, Batam, Jambi, Aceh, Riau, Solo, Balikpapan, dan NTB. Mereka berkomunikasi via daring, seperti Facebook dan media sosial lainnya, termasuk memanfaatkan surat elektronik.

"Mereka semua saling terkoneksi dan ada pemimpinnya untuk setiap daerah. Sedangkan pemimpin utama di Indonesia ialah Aman Abdurahman, terpidana kasus terorisme yang mendekam di LP Nusakambangan," ujar Al Chaidar.

Tertarik kekacauan

Penyebab meningkatnya jumlah pengikut IS di Indonesia, menurut Al Chaidar, karena pola pengajaran yang diberikan cukup sederhana, semisal cara berpikir yang lebih tekstual dan struktural terkait hadis. Mereka pun cenderung tertarik kepada tindakan kekerasan, intoleransi, dan situasi kacau.

"Karena kalau tidak kaos (kacau), mereka merasa tidak ada peran yang ditunjukkan untuk perang. Hal demikian terjadi karena mereka terbiasa hidup dalam perang atau istilahnya jihad," tutur dia.

Baca: ISIS di Indonesia Masih Lemah

Al Chaidar mengimbau masyarakat agar jangan terburu-buru mengikuti aliran keagamaan yang banyak membahas seputar perjuangan dan jihad. Masyarakat harus mencari informasi yang benar ke sumber-sumber referensi, seperti ulama dan kiai.

Sementara itu, pembahasan RUU Antiterorisme masih berlangsung cukup alot di DPR. Salah satu poin yang belum disepakati fraksi-fraksi ialah terkait masa penahanan terduga teroris. Pemerintah mengusulkan penahanan bisa dilakukan hingga sekitar 8 bulan.


(OGI)