KPK Sebut Johannes tak Pernah Masuk Daftar Saksi

Damar Iradat    •    Senin, 14 Aug 2017 16:54 WIB
korupsi e-ktp
KPK Sebut Johannes tak Pernah Masuk Daftar Saksi
Juru Bicara KPK Febri Diansyah - MI/Rommy Pujianto

Metrotvnews.com, Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menegaskan belum pernah memeriksa Johannes Marliem yang tewas di Los Angeles, Amerika Serikat terkait kasus dugaan korupsi proyek kartu tanda penduduk elektronik (KTP-el). Johannes juga tidak masuk dalam daftar saksi di persidangan dengan terdakwa Irman, Sugiharto, dan Andi Agustinus alias Andi Narogong.

"Johannes Marliem bukanlah saksi dalam proses tersebut. Jadi, belum pernah dihadirkan sama sekali di persidangan," ungkap Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin, 14 Agustus 2017.

Nama Johannes Marliem mendadak ramai dibicarakan usai ia disebut sebagai saksi kunci kasus KTP-el. Johannes dalam wawancara dengan sebuah media massa mengaku memiliki rekaman 500 GB terkait pembahasan KTP-el.

Terkait itu, Febri menegaskan, komisi antikorupsi tidak pernah menyebut istilah saksi kunci dalam penanganan sebuah perkara. Apalagi, dalam kasus yang merugikan negara hingga Rp2,3 triliun itu, komisi antirasuah hanya memeriksa 110 saksi di persidangan.

Bos Biomort Lone LLC itu, lanjut Febri, juga tidak terdaftar dalam saksi dakwaan, baik untuk Irman dan Sugiharto maupun Andi Narogong. "Dari 100-an saksi itu, juga tidak ada nama Johannes Marliem yang saya amati di sana," tutur dia.

(Baca juga: KPK Belum Kantongi Alat Bukti Milik Johannes Marliem)

Sementara, terkait rekaman yang sempat disinggung oleh Johannes, KPK mengaku belum mengetahui secara detil hal tersebut. Namun, kata Febri, selama ini, bukti-bukti yang sudah dikantongi KPK dinilai cukup meyakinkan bagi penyidik.

"Kalaupun nanti ada bukti-bukti lain, dalam proses penyidikan dibuktikan dan itu memperkuat, tentu lebih baik," tegas Febri.

Sementara itu, soal informasi yang menyebut Johannes menolak tawaran untuk mendapatkan perlindungan saksi, Febri mengaku tidak mengetahui hal tersebut. Namun, kata dia, jika memang ada pihak yang menolak untuk ditawari perlindungan saksi, KPK tentu tidak dapat memaksakan.

"Kadang-kadang, baik LPSK atau penyidik di penegak hukum mendapatkan informasi, tapi tidak bisa memaksakan saksi itu harus diberikan perlindungan," ungkap dia.

Bahkan, kata dia, dalam Undang-Undang Perlindungan Saksi dan Korban, permohonan untuk perlindungan perlu diklarifikasi lebih dulu, apakah benar saksi dan korban mendapatkan ancaman. Selain itu, tingkat ancamannya seperti apa juga perlu dicek lebih lanjut.

Setelah itu, kata dia, ada perjanjian perlindungan antara satu instansi dengan pihak yang mengajukan diri. Artinya, kata Febri, perlindungan tidak bisa diberikan secara otomatis oleh instansi tertentu, meskipun saksi atau pelapor menolak untuk dilindungi.

"Karena ada beberapa klausul yang memang harus dihormati oleh dua belah pihak," tandas dia.

Johannes Marliem dikabarkan tewas di Los Angeles, Amerika Serikat. Johannes ditemukan tewas dengan luka tembak. Dia diduga menembak diri sendiri.

Dikutip dari media lokal Los Angeles, Wehoville, petugas Los Angeles Police Department (LAPD) Tony I'm mengatakan insiden bermula pada Rabu sore ketika polisi mendapat panggilan darurat ke North Edinburgh Avenue Blok 600.

LAPD lantas mengerahkan tim SWAT. Sebab, ada dua orang lainnya yang berada di rumah yang ditempati Johannes, yakni seorang perempuan dan seorang anak.


 


(REN)