Bukti Pertemuan Dirut PLN dengan Tersangka Dipertajam

Juven Martua Sitompul    •    Rabu, 19 Dec 2018 04:22 WIB
Korupsi PLTU Riau-1
Bukti Pertemuan Dirut PLN dengan Tersangka Dipertajam
Dirut PLN Sofyan Basir seusai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (7/8/2018). Foto: MI/Rommy Pujianto

Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih memperkuat bukti dugaan keterlibatan Direktur Utama Sofyan Basir dalam kasus dugaan suap PLTU Riau-I. Salah satunya, mendalami fakta persidangan tentang pertemuan atau rapat-rapat Sofyan dengan para tersangka dalam kasus ini.

"Bagaimana rapat-rapat atau pertemuan yang terjadi di PLN, di rumah Dirut PLN bukti-bukti apa saja yang ada di sana," kata juru bicara KPK Febri Diansyah di Gedung KPK, Jakarta, Selasa, 18 Desember 2018.

Tak hanya pertemuan, menurut Febri, penyidik juga masih menelaah bukti penandatangan sejumlah dokumen terkait proyek PLTU Riau-I. Penandatangan dokumen itu diduga erat kaitannya dengan peran bos PLN tersebut.

Febri masih belum mau berbicara banyak saat disinggung siapa pihak yang kemungkinan bakal jadi tersangka baru dalam kasus tersebut. Penyidik masih memerlukan waktu untuk menentukan pihak yang bertanggung jawab atas kasus ini.

"Tapi apakah secara otomatis akan ada tersangka baru itu butuh proses dalam pengembangannya," ujarnya.

Baca: KPK Kumpulkan Bukti untuk Menjerat Dirut PLN

Febri menjawab diplomatis saat kembali disinggung perihal perkembangan penyelidikan baru kasus suap PLTU Riau-I. "Untuk pengembangan perkara kami tidak bisa menyebut siapa target dan calon tersangka," ucap dia.

KPK membuka penyelidikan baru kasus dugaan suap PLTU Riau-I. Lembaga Antirasuah bahkan mengamini pengembangan kasus ini mengarah kepada Direktur Utama PLN Sofyan Basir.

Dalam putusan terdakwa Johannes Budisutrisno Kotjo, Sofyan disebut ikut berperan meloloskan perusahaan Blackgold Natural Recourses Limited sebagai konsorsium penggarap proyek PLTU Riau-I. Sofyan disebut sebagai pihak yang menawarkan proyek PLTU Riau-I kepada Setya Novanto dan Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Eni Maulani Saragih, agar digarap oleh perusahaan Blackgold, milik Johannes.

Baca: Sofyan Basir Tunjuk Langsung PT PJBI Garap PLTU Riau-I

Nama Sofyan memang berulang kali muncul dalam penyidikan atau persidangan kasus suap PLTU Riau-I. Menurut pengakuan Eni, Sofyan sempat dijanjikan menerima fee paling banyak. Namun, akhirnya Sofyan mendapat fee sama dengan yang diterima Eni dan Idrus Marham.

KPK baru menetapkan tiga orang tersangka dalam kasus dugaan suap proyek pembangunan PLTU Riau-I. Ketiga tersangka itu yakni bos Blackgold Natural Recourses Limited Johannes Budisutrisno Kotjo, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Eni Maulani Saragih, serta mantan Menteri Sosial Idrus Marham.

Eni bersama dengan Idrus diduga menerima hadiah atau janji dari Kotjo. Eni diduga menerima uang sebesar Rp6,25 miliar dari Kotjo secara bertahap. Uang itu adalah jatah Eni untuk memuluskan perusahaan Kotjo sebagai penggarap proyek PLTU Riau-I.


(AZF)