Pelarian Eddy Sindoro Dibantu Petugas Imigrasi Soetta

Fachri Audhia Hafiez    •    Rabu, 07 Nov 2018 15:54 WIB
suap di ma
Pelarian Eddy Sindoro Dibantu Petugas Imigrasi Soetta
Sidang perdana advokat Lucas - Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez.

Jakarta: Upaya pelarian eks petinggi Lippo Group Eddy Sindoro dari Indonesia ke Bangkok melibatkan sejumlah pihak. Lucas, pengacara Eddy, meminta bantuan petugas imigrasi hingga pihak maskapai penerbangan. 

Hal ini diungkapkan Jaksa Penuntut Umum pada KPK Abdul Basir saat membacakan surat dakwaan Lucas. Jaksa Abdul menyebut Eddy terjerat kasus paspor palsu di Malaysia dan dinyatakan bersalah. 

Dia dijatuhi hukuman denda sejumlah RM 3 ribu atau pidana penjara selama tiga (tiga) bulan. Pada 16 Agustus 2018, Eddy harus membayar denda dan harus keluar dari Malaysia ke Indonesia karena statusnya warga negara Indonesia.

Mengetahui Eddy akan dikembalikan ke Indonesia, Lucas berencana menerbangkan kliennya ke Bangkok. Ini untuk menghindari penyidikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

"Terdakwa meminta bantuan selaku pihak swasta Dina Soraya untuk berkoordinasi dengan petugas Bandara agar ketika Eddy, Chua Chwee Chye alias Jimmy alias Lie dan Michael Sindoro (anak Eddy) mendarat di Bandara Soekarno Hatta langsung dapat melanjutkan penerbangan keluar negeri tanpa melalui proses pemeriksaan Imigrasi," kata beber Jaksa Abdul di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu, 7 November 2018.

Pada 18 Agustus 2018, Dina meminta tolong pada petugas bandara Soekarno Hatta, Dwi Hendro Wibowo alias Bowo untuk menjemput Eddy dan rombongan. Bowo dijanjikan uang Rp250 juta oleh Dina. 

Lucas lalu memerintahkan Dina membeli tiket untuk Eddy, Chua Chwee Chye alias Jimmy alias Lie dan Michael Sindoro dengan rute penerbangan Jakarta-Bangkok pada 29 Agustus 2018 pukul 09.40 WIB.

(Baca juga: Hindari KPK, Pengacara Minta Eks Petinggi Lippo Keluar WNI)

Selanjutnya Bowo memerintahkan Andi Sofyar, petugas Imigrasi Bandara Soekarno Hatta untuk stand by di area imigrasi Terminal 3 dan melakukan pengecekan status pencegahan atau pencekalan Eddy.

"Bersamaan dengan mendaratnya pesawat Air Asia yang membawa Eddy dengan Michael Sindoro dan Chua Chwee Chye alias Jimmy alias Lie, Bowo memerintahkan staff customer service Gapura M Ridwan mencetak boarding pass atas nama Eddy, Jimmy dan Michael tanpa kehadiran yang bersangkutan untuk diperiksa identitasnya," beber Jaksa Abdul.

Kemudian, Bowo dan Duty Executive PT Indonesia Air Asia Yulia Shintawati menjemput Eddy, Chua Chwee Chye alias Jimmy alias Lie dan Michael Sindoro di depan pesawat menggunakan mobil Air Asia langsung menuju Gate U8 Terminal 3 tanpa melalui pemeriksaan imigrasi. Di mana M Ridwan telah mempersiapkan boarding pass mereka.

Sekira pukul 09.23 WIB, Eddy Sindoro dan Jimmy dapat langsung terbang ke Bangkok tanpa diketahui pihak imigrasi sebagaimana yang diinginkan terdakwa. Sementara Michael membatalkan penerbangannya.

Setelah Eddy berhasil meninggalkan Indonesia, Bowo memberikan sejumlah uang dari Lucas pada orang-orang yang telah membantu pelarian tersebut.

Diketahui, Duty Executive PT Indonesia Air Asia Yulia Shintawati menerima Rp20 juta, petugas bandara M Ridwan menerima Rp500 ribu dan ponsel Samsung Galaxy A6, Andy Sofyar Rp30 juta dan ponsel Samsung Galaxy A6 serta David Yoosua Rudingan sejumlah Rp500 ribu.

Lucas didakwa merintangi penyidikan KPK dalam kasus yang menjerat Eddy. Lucas didakwa melanggar  Pasal 21 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

(Baca juga: Kronologi Penyerahan Diri Eddy Sindoro)
 


(REN)