Mengintip dari Dekat Lapas Sukamiskin

Antara, M Rodhi Aulia, K. Yudha Wirakusuma    •    Selasa, 24 Jul 2018 12:38 WIB
suap fasilitas lapas
Mengintip dari Dekat Lapas Sukamiskin
Ilustrasi--Lapas Sukamiskin--MI/Susanto

Bandung: Pintu gerbang besi setinggi dua meter dan gembok besar menyambut Medcom.id, di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I, Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat. Seorang penjaga pun bertanya soal keperluan memasuki area Lapas Sukamiskin. "Mau menjenguk teman," singkatku kemudian dibukakan pintu gerbang tersebut.

Tak lama aku menelepon salah seorang teman yang memang tengah menjalani masa tahanan di Lapas tersebut. Kemudian utusannya menyambutku di depan pintu masuk. "Isi daftar tamu dulu ya, dan kalau ada telepon genggam ditaruh di laci," ucap salah satu petugas perempuan yang duduk di meja tamu.

Beberapa teman yang ikut menjenguk menaruh telepon genggamnya di laci. Sementara sebagian menyelipkannya di kantong celana. Tak ada petugas yang memeriksa di tempat metal detektor, sehingga telepon genggam dapat dengan mudah masuk ke dalam Lapas Sukamiskin.

Kesan angker ternyata tak terlihat saat Medcom.id berada di dalam Lapas Sukamiskin. Tak jauh dari gerbang utama, Medcom.id diarahkan untuk duduk di salah satu saung di Lapas Sukamiskin.

Saung berukuran sekitar 4x 5 meter ini dilengkapi dengan kulkas dan kompor. Saung-saung tersebut dipergunakan narapidana untuk menerima tamu. Ada dua tipe saung di lapas tersebut. Yang pertama lesehan dan yang kedua menggunakan bangku. "Jumlahnya ada 37," singkat salah satu petugas di Sukamiskin, beberapa minggu yang lalu.

Lapas yang dibangun pada 1918 ini juga memiliki fasilitas tambahan seperti Lapangan tenis dan kolam ikan di belakang. Di bagian belakang juga terdapat beberapa saung minimalis.

Baca: KPK Dalami Peran Inneke Koesherawati di Suap Lapas Sukamiskin

Mantan narapidana kasus korupsi proyek Hambalang Andi Malaranggeng bercerita saung di dalam Lapas Sukamiskin. Menurutnya, saung itu karena kebutuhan untuk menerima tamu dan keluarga.

"Di sana kan banyak mantan pejabat, pengusaha yang relasinya banyak, segala macam. Sebelum saya masuk sudah ada di sana. Itu tempat bertamu. Sistemnya kan siapa yang datang, booking," ucap Andi.

Andi mengaku tak ada yang memiliki saung pribadi di sana. Sebab, saung itu digunakan secara bersama. "Ibu saya datangnya hari Rabu, istri saya Kamis atau Senin. Saya cuma booking hari itu. Booking ke pengelola. Dia yang membersihkan semua. Kita kasih uang biar dia membersihkan segala macam. Ya, biasa itu," terangnya.

Di dalam Lapas Sukamiskin, mantan  Menteri Pemuda dan Olahraga ini menceritakan soal aktivitasnya seperti bermain tenis. "Dulu cita-cita saya memang ingin menjadi pemain tenis. Tapi tidak kesampaian ketika masih muda. Banting setir ke sekolah. Masuk UGM  (Universitas Gajah Mada)," paparnya.

Pelaksana harian Kalapas Sukamiskin Bandung, Alfi Zahrin, membenarkan saung yang berada di Lapas Sukamiskin Bandung belum dibongkar oleh petugas lapas.

Keberadaan saung tersebut terungkap berdasarkan penggeledahan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dalam pernyataan yang dikeluarkan Dirjen PAS Kemenkumham, Sri Puguh Budi Utami, di Jakarta, keberadaan saung tersebut tidak sesuai standar dan akan segera dibongkar.

Namun, pembongkaran saung tersebut belum dilakukan karena, menurut Alfi, berdasarkan keterangan dirjen akan disiapkan terlebih dulu tempat berkunjung baru. Terlebih, selama ini keberadaan saung tersebut dijadikan sebagai lokasi kunjungan.

"Tadi malam disampaikan Bu Dirjen, itu akan disiapkan dulu tempat berkunjung baru. Baru itu akan kita tertibkan karena untuk sementara ini digunakan sebagai tempat kunjungan," kata Alfi, Senin, 23 Juli 2018.

Baca: KPK Sebut Suap di Lapas Sukamiskin Sistematis

Sebelumnya, penggeledahan dilakukan oleh Dirjen PAS Kemenkumham pada Minggu, 22 Juli 2018 malam. Ratusan barang yang dilarang berhasil dirazia oleh petugas dari polisi Lapas. Barang-barang yang ditemukan seperti uang, televisi, lemari pendingin, kompor, microwave, katel, panci, spatula, handphone, AC, serta barang lainnya.

Ia juga mengatakan, dalam tiga hari ke depan, ia akan memenuhi panggilan dari tiga lembaga berbeda. Pada Senin, 23 Juli 2018, Alfi akan dipanggil Kanwilkumham Jabar, kemudian Selasa berangkat Dirjen PAS, dan Rabu bertemu dengan Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoly.


Barang hasil sitaan dari kamar napi lapas sukamiskin--MI/Anggoro.

Lapas Sukamiskin kembali menjadi perhatian publik setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggelar operasi tangkap tangan (OTT), Jumat, 20 Juli 2018. Penangkapan diduga terkait suap pelaksanaan tugas atau pelayanan di dalam lapas.
 
Juru bicara KPK Febri Diansyah mengatakan ada enam orang yang ditangkap beserta barang bukti awal berupa uang tunai dalam rupiah dan mata uang asing. Turut diamankan satu unit mobil dan saat ini telah diboyong ke kantor KPK Jakarta.

KPK juga telah menetapkan empat orang tersangka dalam kasus dugaan suap terkait fasilitas narapidana korupsi di Lapas Sukamiskin. Mereka yakni adalah Kalapas Sukamiskin Wahid Husen, Hendy Saputra selaku staf Wahid, napi korupsi Fahmi Darmawansyah, dan napi umum Andi Rahmat selaku tangan kanan Fahmi.
 
Wahid diduga telah menerima dua unit mobil, Mitsubishi Triton Exceed dan Mitsubishi Pajero Sport Dakkar serta uang senilai Rp279.920.000 dan USD1.410. Pemberian itu diduga imbalan dari Fahmi Darmawansyah yang telah mendapatkan fasilitas sel kamar di Lapas Sukamiskin.
 
Atas perbuatannya, Kalapas Sukamiskin dan stafnya selaku penerima suap disangka melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 atau Pasal 12B Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor).
 
Sedangkan, Fahmi dan Andi Rahmat selaku pemberi suap disangkakan melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a atau Pasal 13 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP jo Pasal 64 ayat 1 KUHP.


(YDH)