Suap Rp2 Miliar untuk 'MK' atas Instruksi Ng Fenny

Damar Iradat    •    Senin, 19 Jun 2017 13:24 WIB
patrialis akbar ditangkap kpk
Suap Rp2 Miliar untuk 'MK' atas Instruksi Ng Fenny
Terdakwa kasus suap Hakim MK Ng Fenny/ANT/Hafidz Mubarak

Metrotvnews.com, Jakarta: Staf Keuangan CV Sumber Laut Perkasa Kumala Dewi Sumartono mengakui menyiapkan uang Rp2 miliar untuk diberikan ke MK. Penyiapan uang berdasarkan instruksi Sekretaris petinggi CV Sumber Laut Perkasa Basuki Hariman, Ng Fenny.

"Saya diperintahkan Bu Fenny untuk beli dollar Singapura sebesar Rp2 miliar," kata Dewi saat menjadi saksi untuk terdakwa Basuki Hariman dan Ng Fenny dalam perkara suap Hakim Mahkamah Konstitusi Patrialis Akbar di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Senin 19 Juni 2017.

Fenny, kata Dewi, menghubunginya melalui aplikasi percakapan WhatsApp. Setelah Fenny memastikan segera membeli dollar Singapura, ia langsung mengecek saldo keuangan perusahaan. Ia juga  menghubungi money changer.

"Saat itu money changer sampaikan, ada peraturan untuk beli money changer dalam sebulan hanya boleh beli USD25 ribu, di luar itu harus lampirkan persyaratan," jelas dia.

Dewi kembali menghubungi Ng Fenny yang langsung menyiapkan invoice sesuai persyaratan. "Kemudian, setelah memenuhi persyaratan saya beli jumlahnya SGD211.360, itu hampir Rp1,9 miliar," beber Dewi.

Dewi lalu diminta memfoto uang tersebut. Ia juga disuruh memasukkan uang SGD200 ribu ke dalam amplop dan sisanya disimpan di kantor.

Instruksi selanjutnya, Dewi diperintahkan bertemu karyawan CV Sumber Laut Perkasa, Sutiknyo. Sutiknyo juga diketahui sebagai orang yang mengantarkan uang tersebut ke Ng Fenny.

"Jam 6 sore saya ketemu Sutiknyo di gedung UOB. Setelah Sutiknyo tiba, saya kasih tahu saja, bahwa ini tolong diberikan ke Ng Fenny," beber dia.

Dalam persidangan, jaksa penuntut umum (JPU) pada KPK sempat mengonfirmasi apakah MK yang dimaksud Dewi adalah inisial Mahkamah Konstitusi atau bukan. "Saya baru tahu dari penyidik kalau MK itu Mahkamah Konstitusi," tutur dia.

Namun, seusai pemeriksaan saksi, majelis hakim mengonfirmasi hal serupa kepada terdakwa Ng Fenny soal MK tersebut. Fenny berdalih jika MK yang dimaksud saat itu bukan Mahkamah Konstitusi.

"MK itu Muhammad Kamaludin yang mulia," kata Ng Fenny.

Dalam surat dakwaan kepada Basuki Hariman dan Ng Fenny, Kamaludin juga ikut dijanjikan mendapat Rp2 miliar. Kamaludin merupakan sosok yang mengenalkan Basuki dengan hakim MK Patrialis Akbar.

Basuki dan Ng Fenny didakwa memberi suap atau hadiah USD70 ribu, Rp4,043 juta dan janji Rp2 miliar. Suap diberikan untuk memuluskan pengurusan uji materi perkara nomor 129/PUU-XIII/2015 terkait uji materi Undang-Undang Nomor 41 Tahum 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Keempat terdakwa berkomitmen untuk memenangkan perkara agar aturan impor berubah.


(OJE)