Bareskrim Diminta Buru 3 Petinggi Sinopec

   •    Kamis, 13 Sep 2018 16:27 WIB
kasus penggelapan
Bareskrim Diminta Buru 3 Petinggi Sinopec
Ilustrasi. Foto: AFP/Wang Zhao

Jakarta: PT Mas Capital Trust (MCT) Batam meminta Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri memburu tiga direksi PT Sinomart, anak usaha China Petrochemical Corporation (Sinopec Group), perusahaan asal Tiongkok. Ketiganya disebut menggelapkan dana PT West Point Terminal (WPT), anak usaha PT MCT.

"Sudah hampir tiga tahun kasus ini tak kunjung tuntas. Kami minta perlindungan hukum dari Kabareskrim Polri Komjen Pol Arief Sulistyanto. Ini terkait dengan kepastian investasi klien kami di Batam," kata kuasa hukum PT MCT Neshawaty Arsyad, melalui keterangan tertulis, Kamis, 13 September 2018.

Pada 2015 Polda Kepulauan Riau telah menetapkan tiga direksi Sinomart sebagai tersangka. Ketiganya, yakni Zhang Jun, Ye Zhijun, dan Feng Zigang dituduh menggelapkan dana proyek pembangunan depo minyak di Batam, Kepulauan Riau. Akibat kasus ini proyek depo minyak senilai USD840 juta yang sudah groundbreaking pada 2012 belum dibangun hingga sekarang. 

Sejak Februari 2017 kasus ini diserahkan ke Bareskrim Polri. Bareskrim pun sempat menetapkan ketiga warga asal Tiongkok itu sebagai buron (DPO) dan berstatus red notice. Sejak 28 Februari 2017, kantor pusat Interpol di Lyon, Prancis, pun mengecap mereka sebagai buron Interpol.

Selang sebulan, yakni 31 Maret 2017, PT MCT menerima email mengenai Surat Penghentian Proses Penyidikan (SP3) No S.Tap/07/III/2017/Ditreskrimum yang menyatakan bahwa kasus ini dihentikan dengan alasan tidak cukup bukti. SP3 itu kemudian digunakan oleh para tersangka untuk melepaskan diri dari status red notice

"Namun, Divisi Hukum Polri menyatakan SP3 itu tak benar karena tidak tercatat dalam administrasi Polri. Sehingga, status ketiganya sebagai DPO dan red notice masih berlaku," kata Neshawaty. 

Upaya praperadilan

Pada 6 Februari 2018, PT MCT kembali menerima SP3 No 245.a/II/2018/Dittipidum mengenai kasus tiga tersangka pejabat Sinopec. Penyidikan dihentikan dengan alasan bukan merupakan tindak pidana.

Atas keputusan itu, PT MCT kemudian mengajukan permohonan praperadilan. Hasilnya, pada 27 Maret 2018 Pengadilan Negeri Jakarta Selatan membatalkan SP3 tersebut. 

"Hakim tunggal Kartim Haeruddin dalam putusannya menyatakan SP3 No 245 tanggal 6 Februari 2018 itu tidak memenuhi prosedur yang berlaku," kata Neshawaty. 

Alasannya, kata dia, polisi dalam memutuskan SP3 tidak pernah menghadirkan pelapor dan terlapor saat gelar perkara kasus. Polri juga tidak menghadirkan penyidik yang sudah ditunjuk untuk menangani kasus tersebut. 

Dalam putusannya, hakim Kartim menyatakan Polri harus melanjutkan kasus pidana tiga petinggi Sinopec itu. Penyidik juga diperintahkan untuk menetapkan kembali ketiganya dengan status DPO dan red notice

"Dalam waktu 14 hari kerja sejak putusan praperadilan, penyidik diminta segera menyerahkan berkas kepada jaksa di Kejaksaan Negeri Kepri," katanya.

Minta dilimpahkan

Atas putusan Praperadilan ini, Neshawaty lantas meminta penanganan kasus ini dilimpahkan ke Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Tipideksus) Bareskrim Polri. 

Menurut dia, pemindahan penanganan kasus ke Tipideksus ini tepat mengingat para tersangka diduga telah melakukan sejumlah transaksi perbankan yang merugikan perusahaan. Ia menyebut para tersangka melakukan transfer dana milik perusahaan ke sejumlah rekening di luar negeri dan memasukkan kembali ke rekening di Indonesia. 

"Dana yang diduga digelapkan senilai USD1,5 juta. Sementara, sekitar USD1,2 juta modal usaha PT WPT juga raib," kata Neshawaty. 

PT WPT merupakan perusahaan patungan antara anak usaha Sinopec, yakni Sinomart KTS Development Limited dan PT MCT. Sinomart menguasai 95 persen saham, sedangkan PT MCT memiliki lima persen saham.

Neshawaty berharap Bareskrim bisa segera menyelesaikan kasus ini. "Sehingga ada kepastian hukum atas investasi yang telah dikeluarkan PT MCT selama enam tahun ini. Sebagai pengusaha lokal di Batam, kasus ini membuat posisi kami sangat berat," kata dia.



(UWA)