Khofifah Sebut Komunikasi Tingkat RT Perlu Dibangun

K. Yudha Wirakusuma    •    Selasa, 15 May 2018 11:49 WIB
terorismeTeror Bom di Surabaya
Khofifah Sebut Komunikasi Tingkat RT Perlu Dibangun
Calon Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa - Mi/Susanto.

Surabaya: Sejumlah aksi bom bunuh diri di Surabaya, Jawa Timur melibatkan satu keluarga. Bahkan, pelaku turut mengajak anak mereka yang masih di bawah umur. 

Calon Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa angkat bicara. Menurut dia, perlu dibangun ruang komunikasi hingga tingkat rukun tetangga (RT).

“Paling sederhana RT-RT Kalau sudah RT-RT membangun suatu sistem memonitor. Saya rasa gerakan-gerakan dinamika masyarakat akan ada yang baru atau yang berbeda termonitor dengan baik,” kata Khofifah saat berbincang dengan Medcom.id, Senin, 14 Mei 2018.

Komunikasi yang baik di tingkat RT, kata dia, akan melahirkan kepedulian keluarga satu dengan lainnya. Kemudian akan memunculkan sikap terbuka.

“Di mana bisa saling mengenali satu keluarga dengan keluarga lain. Jadi komunikasi yang lebih memberikan pencerahan kepada masyarakat itu memang harus kita bangun,” ucap mantan menteri sosial ini.

Sebelumnya, Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan kasus bom dengan modus mengajak anak dan istri kerap digunakan di Irak dan Suriah.

Otak pengeboman tiga Gereja di Surabaya diketahui bernama Dita Oepriarto. Dita mengajak istri dan empat orang anaknya.

(Baca juga: Cara Teroris Korbankan Satu Keluarga)

Demikian juga dengan bom di Rusun Wonocolo, Kabupaten Sidoarjo. Pelakunya merupakan satu keluarga. Walau insiden tersebut adalah kecelakaan, keluarga Anton diduga akan melancarkan aksi bunuh diri bersama istri dan anaknya.

"Dalam insiden tersebut Anton, istrinya dan seorang anaknya tewas. Sedangkan tiga anaknya lagi masih dirawat di rumah sakit Bhayangkara," kata jenderal bintang empat itu.

Surabaya, Jawa Timur, digemparkan dengan rentetan ledakan pada Minggu, 13 Mei 2018, pagi. Ledakan terjadi sebanyak tiga kali dalam kurun waktu kurang lebih 1,5 jam.

Ledakan bom terjadi di Rusunawa Wonocolo, Minggu malam. Sumber ledakan berasal dari satu unit di Blok B lantai lima milik warga bernama Anton. Pengelola menyatakan, keluarga Anton menempati rusunawa Wonocolo sejak 2015.

Ledakan juga terjadi pada Senin, 14 Mei 2018 sekitar pukul 08.50 WIB. Bom meledak di pintu masuk Mapolrestabes Surabaya. Aksi ini juga melibatkan satu keluarga. Tri Murdiono mengajak istri dan tiga anaknya. 





(REN)