Handang Baru Sekali Bertandang ke Rumah Rajesh

Meilikhah    •    Senin, 28 Nov 2016 15:31 WIB
ott pejabat ditjen pajak
Handang Baru Sekali Bertandang ke Rumah Rajesh
Kasubdit Bukti Permulaan Direktorat Penegakan Hukum Ditjen Pajak Handang Soekarno -- MI/Panca Syurkani

Metrotvnews.com, Jakarta: Kasubdit Bukti Permulaan Direktorat Penegakan Hukum Ditjen Pajak Handang Soekarno mengaku baru sekali bertandang ke kediaman Country Director PT EK Prima (PT EKP) Ekspor Indonesia Rajesh Rajamohanan Nair. Handang datang untuk mengambil uang kompensasi pengurusan pengampunan pajak (tax amnesty).

"Pak Handang dijanjikan 10 persen kompensasi," kata kuasa hukum Handang, Krisna Murti, di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jalan H.R. Rasuna Said, Jakarta Selatan, Senin (28/11/2016).

Krisna menjelaskan, pertemuan antara Handang dan Rajesh sebelumnya dilakukan di tempat lain, seperti di mal dan hotel sekitar DKI Jakarta. Pertemuan dilakukan sebanyak lima kali.

Kompensasi pengurusan pajak sejumlah 10 persen dari beban pajak perusahaan Rajesh. Uang itu awalnya akan diserahkan di Surabaya.

(Baca: Handang Soekarno Bantah Peras Rajesh Rajamohanan)

Namun, Handang urung hadir lantaran pekerjaannya sebagai kasubdit yang mengurusi pajak seluruh Indonesia. Rajesh kemudian mendatangi kantor Handang dan memintanya datang ke kediamannya di Springhill Residence, Kemayoran, Jakarta Pusat.

"Mohan (Rajesh Rajamohanan Nair) lagi sakit, pak Handang diminta datang ke sana (rumah Rajesh)," kata Krisna.

Selain uang, lanjut Krisna, Handang juga dijanjikan Rajesh hadiah sebagai ungkapan terima kasih karena telah dibantu. Hadiah tersebut akan diberikan saat Handang datang ke rumah Rajesh. Namun tak disebutkan apa hadiah yang dimaksud.

(Baca: Handang Soekarno Mengaku tak Pernah Meminta ke Rajesh)

Handang Soekarno tertangkap tangan menerima uang dari Rajesh. Uang tersebut sebagai kompensasi pengurusan program pengampunan pajak perusahaan Rajesh yang menunggak hingga Rp78 miliar.

Dari operasi tersebut, KPK menyita uang USD148.500 atau sekitar Rp1,9 miliar. Diduga, uang tersebut adalah suap terkait dengan berbagai permasalahan pajak dari PT EK Prima Ekspor Indonesia.

 


(NIN)