Alasan Kemenkominfo Belum Tutup Akun Penyebar Informasi Pedofil

Ilham wibowo    •    Selasa, 21 Mar 2017 09:12 WIB
kekerasan seksual anak
Alasan Kemenkominfo Belum Tutup Akun Penyebar Informasi Pedofil
Ilustrasi--MI/Ramdani

Metrotvnews.com, Jakarta: Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) belum menutup akun media sosial penyebar informasi pedofil. Kemenkominfo masih menunggu hasil penyelidikan kepolisian.

"Intinya, karena sudah masuk dalam proses lidik jadi Kemenkominfo koordinasi dengan Kepolisian. Apabila Kepolisian meminta untuk melakukan tindakan tertentu maka kami akan laksanakan," kata Kepala Biro Humas Kemenkominfo Noor Iza saat dihubungi Metrotvnews.com, Selasa 21 Maret 2017.

Penutupan akun Facebook Official Candy's Group menunggu permintaan polisi. Noor belum bisa memastikan kapan penutupan akun tersebut dilakukan.

Baca: Komnas Anak Minta Pelaku Pedofil Diganjar Pasal Berlapis

Kemenkominfo telah melakukan pemetaan terhadap akun lain, yang memiliki konten serupa. Nantinya akan diserahkan kepada polisi, sebagai bahan penyelidikan. "Nanti akan ada semacam rilis yang akan disampaikan dari pihak Kepolisian," ujarnya.

Penyelidikan kasus Pedofil ini tengah dilakukan Penyidik Ditreskrimsus Polda Metro Jaya. Korban kasus kejahatan seksual terhadap anak diunggah ke grup Facebook Official Candy's Group diduga bakal bertambah.

Dirkrimsus Polda Metro Jaya Kombes Wahyu Hadiningrat baru mendapat data delapan korban anak-anak yang pernah disasar pelaku. Menurut Wahyu, jumlah korban kemungkinan bertambah.

"Korban potensi bertambah, saat ini yang sudah teridentifikasi delapan. Kenapa perlu kita identifikasi, sebab di samping ada filmnya, kita harus tahu pelakunya siapa, di mana dilakukan, kemudian korban ditemukan," kata Wahyu.

Baca: Polisi Bongkar Kejahatan Seksual terhadap Anak di Media Sosial

Mantan Kapolres Metro Jakarta Selatan itu menjelaskan, penyidik sudah menyisir group facebook tersebut. Hasilnya, polisi menemukan sejumlah foto dan video kejahatan seksual terhadap anak-anak yang pernah diunggah ke group.

Dengan temuan tersebut, polisi menduga masih banyak anak-anak yang pernah menjadi korban kejahatan seksual yang belum terdata.

Dalam kasus ini, polisi sudah menangkap empat pelaku yaitu WW, 27, DS, 24, DF, 17, dan SHDW, 16. Keempatnya memiliki peran sebagai admin dan member grup.

WW pernah melecehkan dua orang anak perempuan di bawah umur, yaitu NNF, 12, dan YAM, 8. Tindakan serupa juga pernah dilakukan DF. DF pernah melecehkan enam anak perempuan. Mereka  adalah AQL, 3, WD, 8, ML, 4, FSK, 6, AF, 5, dan RK, 5.

Atas perbuatannya, pelaku dijerat Pasal 27 ayat (1) Jo Pasal 45 ayat (1) UU RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE dan/ atau Pasal 4 ayat (1) Jo Pasal 29 dan/atau Pasal 4 ayat (2) jo Pasal 30 UU RI Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornofgrafi dengan ancaman hukuman paling lama enam tahun dan denda paling banyak Rp6 miliar.


(YDH)

Irman Kembali Diperiksa KPK sebagai Saksi Setnov

Irman Kembali Diperiksa KPK sebagai Saksi Setnov

8 hours Ago

KPK kembali memeriksa mantan Dirjen Dukcapil Kemendagri Irman. Irman diperiksa sebagai saksi un…

BERITA LAINNYA