Indonesia-Selandia Baru Bekerja Sama Tangani Perdagangan Manusia

Arga sumantri    •    Rabu, 06 Dec 2017 14:12 WIB
perdagangan manusia
Indonesia-Selandia Baru Bekerja Sama Tangani Perdagangan Manusia
Ilustrasi: Perdagangan manusia. Foto: MTVN/Syahmaidar.

Jakarta: Bareskrim Polri meneken kerja sama dengan Kepolisian Selandia Baru terkait penanggulangan kejahatan lintas negara. Kerja sama bilateral bertajuk The 6th Bilateral Working Group (BWG) itu fokus pada kasus perdagangan orang.

Kabareskrim Komjen Ari Dono Sukmanto menyebut ada fenomena baru dari pelaku perdagangan manusia yang mesti ditangani bersama. "Saat ini lebih cenderung (modus) sebagai migran ekonomi,” kata Ari Dono melalui keterangan tertulisnya, Rabu, 6 Desember 2017.

Menurut dia, bentuk kerja sama kedua negara salah satunya berupa deteksi sindikat yang beroperasi di masing-masing wilayah. Kedua negara juga sepakat memberi edukasi dan sosialisasi, khususnya di wilayah yang memiliki kerawanan dan menjadi daerah lokasi persinggahan perdagangan manusia.

Peran Bhabinkamtibmas Polri, kata dia, juga perlu dikedepankan untuk menjaga wilayah perbatasan yang kerap digunakan untuk menyelundupkan imigran ilegal. "Maka perlu peningkatan kualitas dan kemampuan personel perdagangan manusia,” ujar dia.

Salah satu kasus perdagangan orang yang penanganannya melibatkan Indonesia dan Selandia Baru yakni saat kapal berbendera Sri Lanka terdampar di laut Nias Utara pada 9 Agustus 2017. Kapal tersebut mengangkut 33 penumpang berkewarganegaraan Sri Lanka yang diorganisasi oleh warga negara Sri Lanka berinisial J.

"Dari hasil pemeriksaan diketahui, para imigran gelap tersebut bertolak ke New Zealand," kata Ari.

Para imigran gelap diberangkatkan dari Sri Lanka. Meraka harus membayar 300 ribu hingga 500 rupee atau setara dengan Rp27 juta hingga Rp43 juta.

Selain itu, ada juga penyelundupan 41 orang Vietnam pada 26 Oktober 2017. Kala itu, kapal yang mengangkut mereka terdampar di pulau Tablolong, Nusa Tenggara Timur. 

"Mereka rencananya akan diselundupkan ke New Zealand. Kasus itu saat ini masih dalam proses penyidikan," kata Ari.

Ari Dono optimistis kerja sama dengan Selandia Baru memberikan sinyal positif pemberantasan kejahatan kemanusiaan ini. Namun, upaya penanggulangan kasus kejahatan perdagangan ini bukan tanpa kendala. 

Baca: Libya Buka Penyelidikan atas Tuduhan Perdagangan Manusia

Salah satu kendala adalah peralatan yang dimiliki Bareskrim Polri sudah tidak kekinian alias ketinggalan zaman. Ari mengaku kondisi itu menghambat proses pengungkapan dan penindakan pelaku perdagangan orang. Polri juga masih kekurangan personel.

“Intensifitas koordinasi antara Indonesia dengan Selandia Baru mesti segera diharmonisasi. Untuk penyegeraan pengungkapan para pelaku perdagangan manusia,” kata Ari.

Sementara, Wakil Kepala Kepolisian Selandia Baru Mike Clement mengapresiasi Polri atas capaian kerja sama dalam penanganan penyelundupan manusia. Bagi Selandia Baru, kata Clement, penyelundupan manusia adalah tindakan kriminal yang perlu penanganan khusus.

“Kami (Selandia Baru) memiliki permasalahan yang sama untuk penyelundupan manusia, dan kami berterima kasih atas kerjasama yang telah dilakukan bersama kedua negara,” kata Clement.




(OGI)