Pengacara: Berani Enggak Hakim Bebaskan Jessica

Arga sumantri    •    Senin, 17 Oct 2016 14:23 WIB
kematian mirna
Pengacara: Berani Enggak Hakim Bebaskan Jessica
Jessica Kumala Wongso dan pengacaranya/AFP/Adek Berry

Metrotvnews.com, Jakarta: Sidang kasus kematian Wayan Mirna memasuki babak akhir. Paling tidak, dua kali persidangan lagi, hakim segera memvonis terdakwa Jessica Kumala Wongso.

Buat pengacara Jessica, Otto Hasibuan, kasus Mirna sebenarnya sederhana. Hanya tinggal pada keberanian majelis hakim.

"Persoalannya, berani enggak hakim membebaskan Jessica," kata Otto sebelum sidang replik kasus Mirna di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin (17/10/2016).

Baca: Pleidoi Jessica Soroti Sebab Kematian Mirna

Tantangan itu, kata Otto, bukan tanpa dasar. Dia mengklaim persidangan sudah menunjukkan tidak cukupnya alat bukti buat menghukum Jessica sebagai pembunuh Mirna.

"Enggak ada dasar tuntutan ini, kalau kita mau jujur," ungkap Otto.

Otto bersandar pada Pasal 184 KUHAP. Pasal itu berisi syarat alat bukti yang sah dalam sebuah kasus pidana.

Keterangan Jessica yang membantah semua tuduhan dan keterangan saksi ikut menguatkan. "17 saksi tidak lihat perbuatan Jessica," tegas dia.

Baca: Isi Lengkap Nota Pembelaan Jessica

Selanjutnya, alat bukti surat. Otto mengatakan, hasi visum et repertum (VER) yang terlampir dalam berkas perkara tidak pernah menunjukkan sebab kematian Mirna.

"Keterangan ahli? Mendukung semua (Jessica tidak bersalah). Mereka bilang terbukti? Tapi yang mana?" cecar Otto.

Wayan Mirna meregang nyawa usai menyeruput es kopi Vietnam di Kafe Olivier, 6 Januari. Kopi itu dipesankan Jessica, yang menjadi terdakwa tunggal kasus ini.

Baca: Pengacara dan Jaksa Adu Penilaian Soal Pelidoi Jessica

Jaksa menuntut Jessica 20 tahun penjara. Jaksa menilai rekan Mirna di Billyblue College itu telah terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana.
Tuntutan 20 tahun penjara sebenarnya menjadi opsi paling ringan dari ancaman hukuman pasal yang didakwakan terhadap Jessica. Seseorang yang didakwa melanggar pasal tersebut bisa dituntut hukuman maksimal, yakni hukuman mati atau penjara seumur hidup.

Dalam nota pembelaannya, Jessica menyatakan keberatan didakwa membunuh secara terencana. Dia memastikan bukan pembunuh Mirna. Pleidoi yang dibaca kuasa hukum Jessica memohon majelis hakim membebaskan kliennya dari seluruh dakwaan.

 


(OJE)