Fayakhun Menyesal

Fachri Audhia Hafiez    •    Rabu, 07 Nov 2018 16:45 WIB
suap di bakamla
Fayakhun Menyesal
Terdakwa suap kasus proyek Bakamla - Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez.

Jakarta: Mantan anggota DPR RI Fayakhun Andriadi mengaku menyesal menerima suap terkait pengadaan satelit monitoring di Badan Keamanan Laut (Bakamla). Fayakhun berharap bisa mendapat keringanan hukuman. 

"Saya mengakui bersalah telah menerima uang bantuan logistik politik dari Direktur PT Rohde and Schwarz Indonesia Erwin Arief. Saya menyesal setelah kejadian ini dan introspeksi," kata Fayakhun di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu, 7 November 2018.

Fayakhun berharap kasus yang menjeratnya bisa mengungkap pihak lain yang terlibat. Sebab, kata dia, untuk tuduhan penambahan anggaran pada Anggaran Pendapatan Belanja Negara-Perubahan (APBN-P) 2016 perlu melibatkan pihak-pihak lain.

"Sejak saya menjalani proses hukum dan ditahan 23 Maret 2018 sampai sekarang. Belum ada rekan DPR yang menjalani tahanan seperti saya, belum ada pengusaha yang ditahan dalam kasus saya. Bahkan belum ada pengusaha yang inkrah karena memberi uang kepada saya," ujar dia.

(Baca juga: Fayakhun Bantu Proyek Bakamla untuk Modal Politik)

Dia berharap majelis hakim mengabulkan permohonan justice collaborator (JC). Politikus Partai Golkar itu juga berharap mendapat keringanan hukuman, mengingat dia sudah bersikap kooperatif dengan mengembalikan uang suap ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

"Saat ini saya menanggung tiga anak, tuntutan 10 tahun dan denda Rp1 miliar sangat berat, mohon majelis hakim keringanan dan justice collaborator saya bisa dikabulkan," ucap dia.

Fayakhun sebelumnya didakwa menerima suap USD911.480 terkait pengadaan proyek satelit monitoring di Bakamla. Duit diterima dari Direktur PT Merial Esa, Fahmi Darmawansyah sebagai penggarap proyek.
 
Fayakhun menerima uang itu sebagai imbalan atas jasanya meloloskan alokasi penambahan anggaran Bakamla dalam APBN-P 2016.


 


(REN)