Penyerang Mapolsek Penjaringan Diduga Gangguan Jiwa

Siti Yona Hukmana    •    Jumat, 09 Nov 2018 16:09 WIB
penyerangan
Penyerang Mapolsek Penjaringan Diduga Gangguan Jiwa
Mapolsek Penjaringan. Foto: Google Maps.

Jakarta: Pelaku penyerangan polisi di Mapolsek Metro Penjaringan, Jakarta Utara R mengaku mengalami depresi. Kejiwaannya terganggu akibat sakit yang tak kunjung sembuh. 

"Penyerang anggota polisi itu sedang depresi, karena operasi getah bening tidak sembuh dan (dia) tidak bekerja," kata Kapolsek Metro Penjaringan, AKBP Rachmat Sumekar saat dikonfirmasi, Jumat, 9 November 2018.

Polisi telah melakukan pemeriksaan terhadap Rohandi. Dia diduga menyerang polisi agar ditembak mati.

"Dia mau (meninggal) tapi dengan cara nyerang polisi supaya ditembak," tutur Rachmat.

Rachmat melanjutkan saat pemeriksaan, R memekikan Allahuakbar untuk menghilangkan rasa takut. Dia menyebut teriakan itu bukan karena dia teroris.

(Baca juga: Penyerang Mapolsek Penjaringan Diduga Tak Terkait Jaringan Teror)

"Karena reflek saja (teriak Allahuakbar) supaya menghilangkan rasa takut sebelum polisi nembak dia. Dia bawa parang juga untuk nakut-nakuti petugas. Karena, yang dikejar oleh pelaku anggota yang bawa senjata, anggota yang tidak bawa senjata dilewati sama dia," beber Rachmat.

Meski demikian, polisi tetap melakukan penahanan terhadap R. Dia dijerat Pasal 213 KUHP dan Undang-Undang Darurat tentang kepemilikan senjata tajam. Dengan ancaman hukuman penjaran 10 tahun. 

Rohandi menyerang polisi di Mapolsek Penjaringan, Jakarta Utara, Jumat, 9 November 2018 pukul 01.35 WIB. Dia menyerang menggunakan golok dan pisau babi. Akibatnya, Kepala Sentra Pelayanan Kepolisian Polsek Penjaringan AKP Irawan luka-luka. 
 


(REN)