KPK Cecar Hubungan Petinggi Arema FC Nonaktif dengan Eddy Rumpoko

Juven Martua Sitompul    •    Kamis, 12 Oct 2017 07:20 WIB
KPK Cecar Hubungan Petinggi Arema FC Nonaktif dengan Eddy Rumpoko
Petinggi Arema FC Nonaktif Iwan Budianto - MI/Rommy Pujianto.

Metrotvnews.com, Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi terus melanjutkan penyidikan terkait suap eks Wali Kota Batu Eddy Rumpoko. Penyidik memeriksa petinggi Arema FC Nonaktif Iwan Budianto. 

Iwan mengaku penyidik mencecar soal hubungannya dengan Eddy Rompoko. "Pripsipnya hari ini pertanyaan yang ringan-ringan saja. Apakah saya mengenal Pak Eddy rumpoko? Ya tentu saya mengenal," kata Iwan di gedung KPK, Jakarta, Rabu 11 Oktober 2017 malam. 

Iwan selaku Direktur Utama Hotel Ijen Suites itu mengaku mengenal Eddy Rumpoko jauh sebelum menjadi Kepala Daerah. Menurut dia hubungannya dengan Eddy Rumpoko terjalin sejak 1997, saat mereka sama-sama menjadi seorang pengusaha.

"‎Ditanya apakah saya mengenal Pak Eddy, apakah saya punya hubungan kekerabatan atau tidak? Soal itu saja. Kedekatan saya dengan Pak Eddy itu sebelum beliau jadi wali kota, kan dia pengusaha dulunya. Saya sudah kenal dia jauh sebelum jadi wali Kota tahun 1997 atau 1998 lalu, saat beliau jadi pengusaha properti yang cukup besar. Saya juga pernah beli properti dari dia," beber dia. 

Pada pemeriksaan kali ini, penyidik tidak hanya menjadwalkan pemeriksaan terhadap Kepala Staff Ketua Umum PSSI itu. Penyidik memanggil dua saksi lain yakni dosen Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya (UB) Yusuf Risanto dan Kepala Cabang PT Kartika Sari Mulia Hariyanto Iskandar.

Namun, Yusuf Risanto tidak ‎hadir memenuhi panggilan lantaran sedang melanjutkan studi di Cina. Penyidik akan berkoordinasi dengan PJKAKI untuk melakukan pemeriksaan di luar negeri.

KPK sebelumnya menangkap tangan Wali Kota Batu Eddy Rumpoko, Kepala Bagian Unit Layanan Pengaduan (ULP) Pemkot Batu Eddi Setiawan, dan Filipus di Batu, Malang, Jawa Timur, Sabtu 16 September. Dari operasi senyap itu, KPK menyita uang Rp200 juta yang diduga akan diberikan Filipus kepada Eddy Rumpoko dan Rp100 juta dari tangan Eddi Setiawan.

Uang itu diduga berkaitan dengan free proyek pengadaan meubelair di Pemerintah Kota (Pemkot) Batu tahun anggaran 2017. Total fee yang diterima Eddy Rumpoko dari proyek tersebut diduga Rp500 juta. Sebanyak Rp200 juta dalam bentuk tunai dan Rp300 juta untuk pelunasan mobil Toyota Alphard.

Proyek itu bernilai Rp5,26 miliar dengan pemenang pengadaan PT Dailbana Prima, milik Filipus. Dalam memuluskan suap, Eddy Rumpoko diduga menggunakan kata sandi untuk menutupi transaksi suap pengurusan proyek belanja modal dan mesin pengadaan meubelair di Pemerintah Kota Batu Tahun Anggaran 2017.

Atas perbuatannya, Filipus sebagai pemberi diduga melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a atau b atau pasal 13 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.

Eddy Rumpoko dan Eddi Setiawan sebagai penerima diduga melanggar Pasal 12 huruf a atau b atau pasal 11 UU Nomor 31 tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.
 
(REN)