Peran 3 Pelaku Bisnis Gay Anak

Arga sumantri    •    Minggu, 17 Sep 2017 15:45 WIB
Peran 3 Pelaku Bisnis Gay Anak
Pelaku pornografi gay anak - MTVN/Arga Sumantri,

Metrotvnews.com, Jakarta: Polisi menangkap tiga pelaku bisnis pornografi anak sesama jenis. Mereka yakni Y, 19; H alias Uher, 30; dan I, 21. 

Direktur Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, Kombes Adi Deriyan mengatakan, ketiga pelaku memiliki peran masing-masing. Y berperan sebagai admin grup telegram premium Video Gay Kids (VGK). Ia juga anggota grup apliksai pesan singkat Whatsapp 'Anak Indonesia'.

"Yang bersangkutan menjual serta menyebarkan video bermuatan pornografi anak melalui grup, tersebut," kata Adi di Markas Polda Metro Jaya, Minggu 17 September 2017.

Y telah beraksi sejak juli 2017. Y menjual gambar atau video seharga Rp10 ribu sampai Rp50 ribu. Pemesan yang sudah membeli, akan dimasukan ke grup telegram VGK Premium.

"Grup tersebut untuk bertukar serta menyebarkan video dan foto pornografi anak secara gratis," beber Adi.

Sementara, H alias Uher menjual video serta foto berkonten pornografi anak lewat Twitter. Ia mengelola dua akun, yakni @NoeHermawanZ, dan @febrifebri745.

"Menjual video atau gambar pornografi anak dengan harga Rp100 ribu per 50 video atau (pembayarannya) dengan sistem transfer pulsa," jelas Adi.

Sedangkan I, menggunakan akun facebook, @FreeVGK69, dan blog pribadi dengan alamat domain freevgk.blogspot.co.id untuk wadah pecinta sesama jenis. Ia menyediakan koleksi-koleksi tautan yang dimiliki Y. Tautan berisi video pornografi anak sesama jenis (gay).

Hasil analisa data digital polisi, ditemukan sekitar 500 sampai dengan 1000 file atau tautan video serta gambar pornografi anak pada masing-masing tersangka. Polisi juga menyita rekening yang diduga digunakan dalam transaksi memperjualbelikan video tersebut.

Polisi membongkar bisnis pornografi anak lewat media sosial. Ironisnya, foto dan video yang disebar dan diperjualikan mempertontokan hubungan sesama jenis antara laki-laki dewasa dan anak laki-laki.

Atas perbuatannya, pelaku dijerat Pasal berlapis, yakni Pasal 27 ayat (1) UU RI Nomor 11 tahun 2008 tentang ITE dan Pasal 29 UU RI Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi. Polisi juga menjerat pelaku dengan Pasal 4 ayat (2) UU RI Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi dan Pasal 30 UU RI Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi.
 
(REN)