Kuasa Hukum Novanto Sebut SBY tak Hormati Profesi Advokat

Whisnu Mardiansyah    •    Rabu, 07 Feb 2018 12:44 WIB
korupsi e-ktp
Kuasa Hukum Novanto Sebut SBY tak Hormati Profesi Advokat
Ketua Tim Kuasa Hukum Setya Novanto Maqdir Ismail--Antara/Puspaperwitasari

Jakarta: Ketua Tim Kuasa Hukum Setya Novanto Maqdir Ismail menyayangkan sikap Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang melaporkan koleganya Firman Wijaya ke Bareskrim Mabes Polri. Menurut Maqdir, seharusnya SBY mengadu ke dewan kode etik profesi advokat. 

"Saya kira seyogyanya lapor polisi itu kan hak warga negara. Jadi, saya kira enggak ada masalah," kata Maqdir saat dihubungi Medcom.id, Rabu, 7 Februari 2018.

Sikap SBY yang langsung memperkarakan pernyataan Firman Wijaya dinilai tak menghormati profesi advokat. Hal ini menghilangkan hak Firman Wijaya sebagi advokat untuk mengklarifikasi pernyataannya kepada dewan kode etik.

"Betul atau tidak Pak Firman itu melanggar kode etik. Betul atau tidak Pak Firman itu menjalankan kewajibannya sebagai seorang advokat, betul atau tidak ada intensi Pak Firman menghina Pak SBY. Ini penting, organisasi dan kehormatan profesi harus dihormati oleh semua orang," tegas Maqdir.



Menurut Maqdir, laporan SBY sama sekali tak mempengaruhi penanganan perkara KTP-el. Laporan SBY tak memiliki urgensi sama sekali. "Cuma yang jadi persoalan dengan kita urgensinya apa terhadap penanganan perkara," ucapnya.

SBY resmi melaporkan kuasa hukum Setya Novanto, Firman Wijaya, kemarin. SBY menilai pernyataan Firman yang mengaitkan dirinya dalam kasus korupsi KTP elektronik sebagai fitnah. 

Baca: SBY Laporkan Pengacara Novanto ke Bareskrim

 
Kuasa hukum SBY, Ferdinand Hutahaean, menilai pernyataan Firman di luar persidangan soal kesaksian mantan politikus Partai Demokrat Mirwan Amir telah menggiring opini. Padahal, kata dia, Mirwan tak berkata demikian di persidangan.

"Mirwan Amir tak pernah bilang tokoh besar, orang besar, dan intervensi. Tak ada itu di persidangan. Tetapi kemudian Firman Wijaya di media bilang ada tokoh besar, orang besar, dan mengaitkannya dengan pemenang Pemilu 2009. Kami menilai itu arahnya ke Pak SBY. Ini yang kita nilai pencemaran nama baik dan fitnah," kata Ferdinand.


(YDH)