Rohadi Sempat Berencana Bangun Water Park

Yogi Bayu Aji    •    Jumat, 23 Sep 2016 14:11 WIB
ott kpk
Rohadi Sempat Berencana Bangun <i>Water Park</i>
Terdakwa kasus suap putusan Saipul Jamil, Rohadi menghadiri sidang eksepsi di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Selasa (13/9/2016). Foto: Antara/Rosa Panggabean

Metrotvnews.com, Jakarta: Hendra Heriansyah, pengacara Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Utara Rohadi, mengakui bila kliennya memang berencana membangun water park. Namun, hal itu belum terealisasi.

"Water park itu baru wacana. Masih tanah kosong belum terbangun," kata Hendra di Gedung KPK, Jalan HR Rasuna Said, Setiabudi, Jakarta Selatan, Jumat (23/9/2016).

Menurut dia, surat tanah lokasi pembangunan water park sudah ada di Rohadi namun belum dibayar lunas. Status tanah pun masih milik masyarakat. Nantinya, sang panitera akan mencarikan investor untuk membangun fasilitas itu.

Dia pun mengklarifikasi soal Rohadi yang diisukan memiliki hotel. Dia menjelaskan, Rohadi tak pernah memiliki tempat penginapan.

"Pak rohadi juga merasa kaget. Hotel apa? Di mana? Saya kejar tolong dipastikan Pak Rohadi," jelas dia. "Tapi Rohadi memberikan keyakinan kepada kami bahwa dia tidak punya aset hotel."



Diketahui, harta berlimpah Rohadi diungkapkan KPK dalam rapat dengar pendapat dengan DPR, Rabu 21 September. KPK menjawab cibiran sejumlah pihak terkait operasi tangkap tangan terhadap suap dengan nominal kecilalah satunya, kepada Rohadi.

"Waktu itu Pak Agus Rahadrjo (ketua KPK) di acara Muhammadiyah diketawain Pak Rizal Ramli (eks Menko Kemaritiman). Pak Agus kok OTT Rohadi cuma Rp250 juta," kata Wakil Ketua KPK Laode M. Syarif.

Baca: Mengaku Tebak Putusan, Rohadi dapat Rp250 Juta dari Pengacara Saipul Jamil

Rohadi ditangkap KPK karena menerima suap dari kakak Samsul Hidayatullah, kaka pedangdut Saipul Jamil. Rizal, kata Syarif, menyebut perkara itu sekelas kasus di kepolisian sektor.

Syarif pun menjelaskan, kasus suap bukan soal nominal. Rohadi ini perlu diungkap kasusnya lantaran memiliki kekayaan dan aset yang sangat tidak wajar jika dilihat dari karier dan pekerjaannya.

"Ada (punya) hotelnya, taman rekreasi, rumah sakit. Mobilnya 16. Ini kan panitera, bukan hakim agung, bukan hakim PN," ucap Akademisi Universitas Hasanudin ini.

Baca: Rohadi: Saya Cemas Terus, Ketakutan Terus

Syarif ingin mengatakan, dari nominal suap yang tergolong kecil itu menjadi pintu masuk KPK membumihanguskan praktik atau skandal megakorupsi lainnya. KPK ingin mengera orang-orang di belakang Rohadi.

"Ada daun, ada ranting, ada pohon. Mudah-mudahan, pohonnya juga bisa ketebang. Karena susah kalau langsung ke pohonnya. Jadi harus lewat ranting-ranting," kata Syarif.


(AZF)

Video /