Mental Petugas Lapas Harus Dibenahi

   •    Minggu, 16 Sep 2018 19:59 WIB
setya novantosidak lapas
Mental Petugas Lapas Harus Dibenahi
Lapas Sukamiskin Bandung, Sabtu 21 Juli 2018. Foto: Medcom.id/Roni Kurniawan

Jakarta: Temuan sel mewah narapidana kasus korupsi kartu tanda penduduk berbasis elektronik (KTP-el) Setya Novanto tak lepas dari mental lemah petugas lembaga pemasyarakatan (lapas). Aktivis 1998 Hariman Siregar menyebut oknum petugas lapas biasanya paling senang dan nyaman bila narapidana tindak pidana korupsi masuk bui.

"Oknum petugas lapas berbahagia sekali kalau yang masuk adalah napi koruptor," kata Hariman melalui keterangan tertulis, Minggu, 16 September 2018.

Perlakuan berbeda justru hadir saat terpidana atau napi yang datang adalah napi kasus pidana politik atau kriminal biasa. Alih-alih mendapat perlakuan khusus, para napi itu justru mendapat perlakuan kasar dari sipir.

"Itu pernah saya alami. Hanya mendapatkan sakit dan derita," kata Hariman yang pernah menjadi tahanan politik di masa Orde Baru.

Selama mental petugas lapas tak dibenahi, ia tak yakin reformasi lapas bebas dari praktik suap. "Selama mental oknum petugas lapas masih bobrok, maka mental koruptor tak akan berubah," kata dia.

Ombudsman RI melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Lapas Sukamiskin Kota Bandung, Kamis, 13 September 2018. Anggota Ombudsman RI Ninik Rahayu mengatakan masih ada hal diskriminatif di Lapas Sukamiskin.

Saat hendak masuk ke dalam lapas, Ninik mengaku sempat ditahan selama 30 menit oleh petugas gerbang. Saat sidak, dia mendapati kamar terpidana Setya Novanto dua kali lebih besar dari narapidana lainnya.

"Kamarnya berukuran dua kali lipat, ukurannya tidak bisa saya pastikan. Itu punya Pak Setya Novanto. Memang lebih luas, tapi dijelaskan bahwa kamar itu bekas diisi terpidana sebelumnya. Tidak ada TV," kata Ninik di Kantor Kanwil Kemenkum HAM Jabar, Kota Bandung, Jumat, 14 September 2018.

Baca: Novanto Bantah Diperlakukan Spesial di Sukamiskin

Setya Novanto membantah temuan Ombudsman RI tersebut. "Enggak ada itu. Biasa itu, bukan besar," kata mantan ketua umum Partai Golkar itu saat dijumpai di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat, 14 September 2018.
 
Ia menyatakan kamar yang ditempatinya saat ini adalah bekas tahanan lain. Oleh sebab itu, ukuran kamarnya sesuai dengan standar Lapas Sukamiskin. "Itu kan bekas lapas, enggak ada kok yang besar, sama sajalah, standardisasi sama," ujar dia.


(UWA)