Aman Abdurrahman Heran Dikaitkan dengan Bom Surabaya

Fachri Audhia Hafiez    •    Jumat, 18 May 2018 14:48 WIB
terorismeTeror Bom di Surabaya
Aman Abdurrahman Heran Dikaitkan dengan Bom Surabaya
Terdakwa kasus dugaan teror bom Thamrin Aman Abdurrahman alias Oman (tengah) menjalani sidang perdana dengan agenda pembacaan dakwaan di PN Jakarta Selatan. Foto: Antara/Reno Esnir.

Jakarta: Kuasa hukum terdakwa kasus teror Aman Abdurrahman heran kliennya dikaitkan dengan ledakan bom di Surabaya, Jawa Timur. Pasalnya, Aman dalam penjaga ketat di rumah tahanan (rutan). 

"Bagaimana dia (Aman) ada kaitan dengan teror Surabaya. Dia sementara dalam tahanan dan tak bisa dijenguk dan tak ada hubungan keluar sama sekali," kata Asrudin Hatjani, pengacara Aman, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel), Jumat, 18 Mei 2018.

Di sisi lain, Asrudin menjelaskan tuntutan soal bom Thamrin yang dibacakan jaksa sudah sesuai dengan apa yang dilakukan kliennya. Namun, dia memastikan Aman tidak berhubungan dengan teror yang terjadi di Tanah Air belakangan ini.

Namun, Asrudin tak menampik kliennya memberikan tausiah di dalam lembaga pemasyarakatan (lapas). "Tujuannya untuk menyebarkan orang-orang yang sepaham dengan dia mengetahui bahwa ini lah anjuran Alquran yang ada kaitannya dengan khilafah."

Asrudin mengaku saat ini jarang menjumpai Aman saat di rutan. Dia juga jarang berkomunikasi dengan kliennya. "Dia masih dalam tahanan Mako Brimob. Belum ada yang jenguk. Komunikasi intens tentang pembelaan ini (kasus bom Thamrin) saja," tutur Asrudin.

Baca: Dosa Aman Abdurrahman di Mata Jaksa

Sebelumnya, Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyebut serangan bom di Surabaya adalah balasan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) atas perlakuan Indonesia terhadap Aman Abdurrahman. JAD adalah kelompok teror yang digagas Aman.

"Karena Aman Abdurrahman, yang harusnya keluar Agustus tahun lalu, ditangkap kembali," kata Tito, Senin, 14 Mei 2018.

Aman awalnya tersandung hukum saat bom rakitan meledak di rumah kontrakannya, Kampung Sindang Rasa, Kelurahan Suka Maju, Cimanggis, Depok, Jawa Barat pada 2004. Ia divonis tujuh tahun penjara dalam kasus ini.

Dia kembali terjerat setelah terlibat dalam pelatihan militer di Jalin Jantho, Aceh Besar pada 2010. Pengadilan memvonis Aman dengan pidana sembilan tahun penjara.

Aman kemudian ditangkap kembali karena diduga terlibat serangan bom pada 14 Januari 2016 di kawasan Jalan MH Thamrin, Jakarta. Dalam kasus ini, residivis kasus teror itu dituntut hukuman mati.





(OGI)

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

5 days Ago

Uang berasal dari uang pengganti terpidana kasus korupsi proyek KTP-el Andi Agustinus alias And…

BERITA LAINNYA