Polda Belum Dapat Keterangan Novel Baswedan

Annisa ayu artanti    •    Rabu, 12 Dec 2018 05:12 WIB
novel baswedan
Polda Belum Dapat Keterangan Novel Baswedan
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono. Foto: MI/Haufan Hasyim Salengke.

Jakarta: Penyidik Polda Metro Jaya menyebutkan hingga saat ini belum mendapatkan keterangan untuk pembuatan berita acara pemeriksaan (BAP) dari penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan untuk mengungkap pelaku penyiraman zat kimia terhadap dirinya.

"Sampai sekarang belum mendapatkan itu (keterangan Novel)," kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono di Jakarta, seperti dikutip Antara, Selasa, 11 Desember 2018.

Argo menjelaskan, penyidik Polda Metro Jaya menerapkan metode induktif dan deduktif untuk menyelidiki penyiraman zat kimia terhadap Novel Baswedan. Polisi membutuhkan keterangan dari korban untuk mencari petunjuk berdasarkan motif seperti masalah keluarga atau terkait pernah menangani perkara tertentu, mendapatkan ancaman, maupun intimidasi.

"Itu semuanya yang harus kita gali dari korban itu sendiri," ujar Argo.

Baca juga: Ombudsman Temukan Maladministrasi Penyidikan Kasus Novel

Terkait temuan Ombudsman terhadap penanganan kasus Novel, Argo menyatakan Polda Metro Jaya sedang menyusun jawaban yang harus diserahkan sebelum 30 hari. Sebelumnya, anggota Ombudsman RI Adrianus Meliala mengumumkan empat temuan maladministrasi minor yang dilakukan penyidik kepolisian.

"Ada empat maladministrasi minor yang kami temukan, tetapi kekeliruan tersebut tidak memiliki dampak secara substantif terhadap penyidikan perkara," tutur Adrianus.

Temuan maladministrasi tersebut diperoleh dari hasil investigasi yang dilakukan sejak 11 April 2017 hingga September 2018. 

Baca juga: Polisi Kaji Temuan Ombudsman di Kasus Novel

Dalam investigasi yang dilakukan Ombudsman, terperiksa meliputi jajaran penyidik Kepolisian Sektor Kelapa Gading, Kepolisian Resort Metro Jakarta Utara, dan Kepolisian Daerah Metro Jakarta Jaya (Polda Metro Jaya). 

Maladministrasi yang ditemukan Ombudsman terdiri atas empat faktor, di antaranya aspek penundaan berlarut penanganan perkara, efektivitas penggunaan sumber daya manusia, pengabaian petunjuk yang bersumber dari Novel Baswedan sebagai korban, dan aspek administrasi penyidikan.  


(HUS)