Jejak-Jejak Keislaman Bung Karno

Faisal Abdalla    •    Sabtu, 17 Jun 2017 05:03 WIB
bung karno
Jejak-Jejak Keislaman Bung Karno
Ilustrasi Walikota Bandung Ridwan Kamil atau yang akrab disapa Kang Emil (dua kanan) mengamati lukisan Presiden Soekarno saat mengunjungi Perpustakaan Nasional Bung Karno di Blitar, Jawa Timur, Rabu (8/3). .ANTARA FOTO/Irfan Anshori

Metrotvnews.com, Jakarta: Tensi politik akhir-akhir ini berhasil mengkotak-kotakan bangsa Indonesia kedalam golongan nasionalis dan golongan Islam. Sekelompok orang bahkan menuduh Pancasila sebagai sesuatu yang antitesis dengan nilai-nilai keislaman.

Selain menuduh Pancasila sebagai produk yang bertentangan dengan ajaran Islam, sekelompok orang juga menyebut bahwa perumus pancasila, Bung Karno, sebagai seseorang yang kafir dan anti-islam.

Dalam forum Ngaji Bareng Bung Karno, ketua fraksi PDIP Perjuangan, Ahmad Basarah berusaha menghapus anggapan-anggapan tersebut dengan memaparkan sejarah pemikiran Islam Bung Karno.

Menurut Basarah, selain sebagai seorang nasionalis sejati, Bung Karno juga merupakan tokoh Islam yang sangat berpegang teguh pada nilai-nilai keislaman itu sendiri.

Awal Pemikiran Islam Bung Karno

Pemikiran keislaman Bung Karno tumbuh ketika sang proklamator dititipkan oleh ayahnya R. Soekemi Sosrodihardjo kepada seorang tokoh besar dari Sarekat Islam, Hadji Oemar Said Tjokroaminoto. Di rumah Tjokroaminoto, Soekarno muda banyak berdiskusi tentang nilai-nilai keislaman dan kebangsaan dari ulama-ulama islam pada masa itu.

"Dalam literatur yang ditulis Solichin Salam, Bung Karno mengakui bahwa periode selama beliau tinggal di rumah H.O.S Tjokroaminoto memberikan dampak besar terhadap tumbuhnya pemikiran-pemikiran keislaman dan kenegaraan Bung Karno," ujar Basarah di Kawasan Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat, Jumat 16 Juni 2017.

Ketertarikan Bung Karno terhadap Islam semakin kuat ketika dirinya mondok di perguruan yang dipimpin oleh K.H Ahmad Dahlan. Bahkan selama periode itu, Bung Karno rutin mengikuti tabligh-tabligh akbar tiga kali dalam satu minggu.

Bung Karno juga pernah tercatat bergabung dengan organisasi islam Muhammadiyah. Menurut Basarah, hal tersebut dilakukan Bung Karno karena sang proklamator beranggapan Muhammadiyah adalah organisasi yang sejalan dengan tujuan hidup Bung Karno, yaitu mengabdi kepada tuhan.

Anggapan tersebut didukung oleh sebuah puisi yang ditulis Bung Karno dalam buku Sarinah:

"Dalam cita-cita politik ku, aku ini nasionalis.
Dalam cita-cita sosial ku, aku ini sosialis.
Dalam cita-cita sukma ku, aku ini sama sekali theis
Sama sekali percaya tuhan
Sama sekali mengabdi kepada tuhan"

Tujuan hidup Bung Karno dalam puisi di atas sejalan dengan esensi agama Islam, yaitu mengabdi kepada tuhan.

Nasionalisme dan Keislaman Bung Karno

Pada sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno menyampaikan pidatonya untuk mengusulkan landasan bagi bangsa Indonesia dalam mengisi kemerdekaan. Pidato bung Karno yang diberi judul Pancasila tersebut disetujui secara aklamasi sebagai dasar negara Indonesia.

Segera setelah sidang, ketua BPUPKI dr. Radjiman Wedyodiningrat membentuk panitia kecil untuk merumuskan dasar negara yang bersumber dari pidato Bung Karno, dikenal sebagai panitia delapan.

Anggota dari panitia delapan antara lain Bung Karno, Moh. Hatta, M. Yamin, M Soetardjo Kartohadikoesoemo, Oto Iskandardinata, A Maramis serta dua orang dari untuk mewakili golongan islam, Ki Bagoes Hadikoesoemo mewakili Muhammadiyah, dan K.H Wahid Hasyim mewakili Nahdatul Ulama.

Komposisi panitia delapan yang terdiri dari golongan nasionalis dan islam dibentuk untuk mengakomodir dua pendapat yang berkembang saat itu, yaitu mendirikan Indonesia dengan landasan negara kebangsaan, dan mendirikan Indonesia diatas pondasi negara Islam.

Akan tetapi, Bung Karno membentuk panitia kecil sendiri yang dikenal dengan panitia sembilan.

Anggota dari panitia sembilan antara lain Bung Karno, Moh. Hatta, M. Yamin, A Maramis, A Soebardjo, K.H Wahid Hasyim, Abdulkahar Muzakkir, H.A Salim, dan Abi Koesno Tjokrosoejoso.

Dengan komposisi panitia sembilan yang  dibentuk Bung Karno, jumlah golongan nasionalis dan golongan Islam menjadi proporsional, yaitu empat golongan nasionalis, empat mewakili golongan islam, serta Bung Karno sebagai ketua sekaligus pihak yang menengahi.

Upaya Bung Karno dalam menyeimbangkan wakil nasionalis dan Islam adalah wujud manifestasi dari pemikiran-pemikiran Islam Bung Karno, yaitu Islam yang bermusyawarah dan bermufakat.

"Oleh karena itu, sesungguhnya dalam konstruksi pemikiran Bung Karno Islam bukan antitesis nasionalisme. Dalam konteks bangsa Indonesia, Islam dan nasionalisme merupakan satu tarikan nafas yang berjalan beriringan," pungkas Basarah.


(DEN)

KPK Masih Telusuri Dugaan Keterlibatan 7 Penyidik di Kasus KTP-el

KPK Masih Telusuri Dugaan Keterlibatan 7 Penyidik di Kasus KTP-el

2 hours Ago

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memastikan pemeriksaan internal terhadap tujuh orang penyidi…

BERITA LAINNYA