Keterangan Ketua Saracen Inkonsisten

Arga sumantri    •    Kamis, 14 Sep 2017 10:30 WIB
ujaran kebencian
Keterangan Ketua Saracen Inkonsisten
Kabag Penum Divhumas Polri Kombes Martinus Sitompul--Antara/Widodo S Jusuf

Metrotvnews.com, Jakarta: Polisi menyebut keterangan Ketua Saracen Jasriadi inkonsisten. Sikap inkonsisten itu membuat penyidik kesulitan menyelesaikan berkas perkara.

"Tiga kali ditanya dengan waktu berbeda, dia beri tiga jawaban beda atas pertanyaan yang sama. Ada ketidakkonsistenan," kata Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Martinus Sitompul di Kompleks Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis 14 September 2017.

Polisi, kata Martinus, membutuhkan banyak informasi yang pasti dari Jasriadi. Utamanya terkait rekam jejak komunikasi pemimpin kelompok penyebar ujaran kebencian itu.

"Seringkali dia cerita ABCD, lalu dia bicara EFGH. Dia bilang juga hanya buat proposal, tapi enggak jadi kirimkan," ungkap Martinus.

Polisi tak patah arang. Berbekal penelusuran komunikasi secara digital, polisi akan mengonfirmasi keterangan Jasriadi dengan orang-orang yang pernah berkomunikasi dengannya.

Baca: Peran Para Tersangka Saracen

Martinus belum membeberkan ada berapa nama yang bakal diperiksa terkait Jasriadi. "Orang yang terkait dalam ini akan kita data. Akan dilihat jejak digitalnya," ucap Martinus.

Jasriadi merupakan ketua kelompok penyebar ujaran kebencian, Saracen. Ia terancam dijerat pasal berlapis lantaran diduga membajak akun media sosial orang lain.

Saat ini setidaknya empat pasal sudah disematkan pada pentolan Saracen itu. Polisi menjerat Jasriadi dengan Pasal 46 ayat 2 juncto Pasal 30 ayat 2 dan atau Pasal 46 ayat 1 juncto Pasal 30 ayat 1 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dengan ancaman tujuh tahun penjara.

Saracen, kelompok penyebar kebencian, menjadi buah bibir setelah Polri menangkap tiga pengurusnya, yakni MTF, SRN dan Jasriadi. Organisasi ini kerap mendapat pesanan dari pihak tertentu untuk menyerang pemerintah, pejabat, publik, tokoh masyarakat atau suatu kelompok.



Nama baik perorangan atau institusi dijatuhkan melalui pemberitaan yang berbau penghinaan, sentimen agama, sampai berita hoaks. Tak hanya itu, jasa Saracen kerap digunakan pemesan dalam perhelatan demokrasi semisal pilkada.

Baca: Pengguna Jasa Saracen Bakal Dijerat Pasal Berlapis

Pemesan akan meminta Saracen untuk menyerang dan menjatuhkan elektabilitas lawan politiknya. Belum diketahui secara detail siapa saja yang pernah menggunakan jasa Saracen.

Terakhir, polisi juga menangkap Asma Dewi yang diduga terkait kelompok Saracen. Polisi telah mengantongi hasil analisis aliran duit Asma Dewi dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).


(YDH)

Sidang Praperadilan Setnov Digelar 30 November

Sidang Praperadilan Setnov Digelar 30 November

14 minutes Ago

PN Jakarta Selatan mengagendakan sidang perdana gugatan praperadilan Ketua DPR Setya Novanto pa…

BERITA LAINNYA