Petinggi PT Gajah Tunggal Bungkam usai Diperiksa KPK

Juven Martua Sitompul    •    Senin, 06 Nov 2017 20:06 WIB
kasus blbiblbi
Petinggi PT Gajah Tunggal Bungkam usai Diperiksa KPK
KPK. Foto: MI/Rommy Pujianto.

Metrotvnews.com, Jakarta: Direktur HR PT Gajah Tunggal Tbk Jusup Agus Sayono bungkam usai diperiksa penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dia baru saja diperiksa terkait kasus dugaan korupsi penerbitan surat keterangan lunas bantuan likuiditas Bank Indonesia (SKL BLBI) kepada Sjamsul Nursalim.

Jusup yang diperiksa sebagai saksi untuk tersangka mantan Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional Syafruddin Arsyad Temenggung memilih irit bicara dan menerobos kerumunan wartawan. Komisaris PT Polychem Indonesia Tbk itu mempersilakan media mengonfirmasi materi penyidikan ke penyidik.

"Enggak ada, enggak ada. Tanyakan saja ke penyidik," kata Jusup di Gedung KPK, Jakarta, Senin 6 November 2017.

Sementara itu, juru bicara KPK Febri Diansyah mengatakan, selain memeriksa Jusup, penyidik juga memanggil bos PT Gajah Tunggal Tbk Sjamsul Nursalim dan istrinya Itjih Nursalim. Namun, keduanya mangkir dari pemanggilan itu.

"Sejauh ini belum ada kehadiran dari Sjamsul dan Itjih yang kita panggil," ujarnya.

Menurut dia, sejauh ini pihaknya sudah berkoordinasi dengan otoritas Singapura, Corrupt Practices Investigation Bureau (CPIB). Pasalnya, Sjamsul dan istrinya diketahui telah menetap di Singapura.

"Kita sudah kerja sama dengan otoritas Singapura juga untuk sampaikan panggilan. Direncanakan dipanggil untk tersangka SAT dalam kasus BLBI," ujar dia.

Baca: KPK Panggil Sjamsul Nursalim Terkait Kasus BLBI

Dalam kasus ini, Sjamsul Nursalim selaku pemegang saham BDNI masih memiliki kewajiban sebesar Rp4,8 triliun atas kucuran dana BLBI yang dikeluarkan imbas krisis ekonomi 1997. Dari total tagihan itu, Sjamsul Nursalim baru menyerahkan Rp1,1 triliun yang ditagihkan kepada petani tambak Dipasena. 

Sisanya Rp3,7 triliun tak dibahas dalam proses restukturisasi BPPN dan tak ditagihkan kepada Sjamsul. Setelah aset yang diklaim Sjamsul sebesar Rp1,1 triliun dilelang PT Perusahaan Pengelolaan Aset (PPA), ternyata aset tersebut hanya bernilai Rp220 miliar. Berdasarkan audit investigatif BPK, kerugian negara dalam penerbitan SKL BLBI kepada Sjamsul Nursalim mencapai Rp4,58 triliun.




(OGI)