KPK Dalami Kontrak Konsultasi Pengadaan Pesawat Garuda

Juven Martua Sitompul    •    Kamis, 14 Dec 2017 22:49 WIB
emirsyah satar tersangka
KPK Dalami Kontrak Konsultasi Pengadaan Pesawat Garuda
Juru Bicara KPK Febri Diansyah. Foto: MI/Susanto

Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mendalami kasus dugaan korupsi pengadaan pesawat dan mesin pesawat Airbus S.A.S dan Rolls-Royce P.L.C pada PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Saat ini, penyidik tengah menelisik kontrak jasa konsultasi dalam pengadaan pesawat tersebut.

"Penyidik mendalami kontrak jasa konsultasi terkait pengadaan pesawat dan mesin pesawat," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Gedung KPK, Jakarta, Kamis 14 Desember 2017.

Hari ini, penyidik melakukan pemeriksaan terhadap salah satu saksi dari pihak swasta yakni Sallyawati Rahardja. Dia diperiksa sebagai saksi untuk tersangka mantan Dirut PT Garuda Indonesia, Emirsyah Satar. Dari Sallywati, penyidik juga mendalami komisi terkait pengadaan pesawat ini. "Penyidik juga mendalami informasi pembayaran komisi‎," ucap Febri.

Ini bukan kali pertama Sallyawati diperiksa penyidik KPK. Sebelumnya, dia yang disebut-sebut juru bayar Benefecial Owner Connaught Pte. Ltd dan PT Mugi Rekso Abadi itu, pernah digarap KPK. Namun, ia bungkam saat dicecar sejumlah pertanyaan oleh awak media.

Informasi yang dihimpun, Sallyawati diduga pihak yang mengatur pembelian barang untuk Emirsyah. Uang yang digunakan untuk pembelian barang itu diduga bagian suap dari Rolls Royce kepada Emirsyah.

Tak hanya itu, sejumlah uang juga ditransfer Sallyawati kepada PT Mugi Rekso dan salah satu keluarga Emirsyah. Kemudian, uang yang masuk ke PT Mugi Rekso itu digunakan Sallyawati membeli properti di Indonesia untuk Emirsyah.

Sepanjang proses penyidikan kasus ini, tiga saksi yakni Sallyawati Rahardja, Hadinoto Soedigno, dan Agus Wahjudo telah dicegah KPK. Selain mencegah, KPK juga telah melakukan penggeledahan di sejumlah lokasi, salah satunya di Wisma MRA, kantor perusahaan milik Soetikno. Di lokasi itu, tim juga menyasar PT Dimitri Utama Abadi. Perusahaan itu diketahui merupakan anak perusahaan PT Mugi Rekso Abadi, yang bergerak dalam bisnis jasa transportasi udara.

Penggeledahan itu dilakukan lantaran Soetikno diduga sebagai perantara suap antara Rolls Royce dan Airbus dengan mantan Dirut PT Garuda Indonesia, Emirsyah Satar. Bahkan, Soetikno diduga sebagai pihak yang ikut andil dalam pembelian sejumlah aset untuk Emirsyah yang berasal dari uang korupsi tersebut.

‎Dalam kasus ini, KPK‎ telah menetapkan Emirsyah Satar‎ dan Soetikno Soedardjo selaku bos Mugi Rekso Abadi (MRA) Grup sekaligus Beneficial Owner Connaught Intenational. Keduanya disinyalir telah melakukan tindak pidana korupsi dengan perusahaan Rolls Royce dan Airbus terkait pengadaan mesin dan pesawat untuk PT Garuda Indonesia.

Emirsyah diduga telah menerima suap dari Soetikno dalam bentuk uang dan barang dari Rolls Royce. Emir diduga menerima 1,2 juta Euro dan USD180 ribu atau setara Rp20 miliar sedangkan barang yang diterima senilai USD2 juta dan tersebar di Singapura dan Indonesia.

Atas dugaan itu, Emirsyah sebagai penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau b dan atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1991 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 Ayat (1) KUHP juncto Pasal 64 Ayat (1) KUHP.

Sedangkan, Soetikno selaku pemberi suap dijerat Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1991 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP juncto Pasal 64 Ayat (1) KUHP.


(AGA)