Kejagung Belum Jadwalkan Periksa Eks Dirut Pertamina

Sunnaholomi Halakrispen    •    Jumat, 14 Sep 2018 19:39 WIB
Kasus hukum Karen Galaila
Kejagung Belum Jadwalkan Periksa Eks Dirut Pertamina
Jaksa Agung HM Prasetyo. Medcom.id/Sunnaholomi Halakrispen

Jakarta: Kejaksaan Agung (Kejagung) belum menjadwalkan lagi pemeriksaan terhadap eks Dirut PT Pertamina (Persero) Karen Galaila Agustiawan. Ia merupakan tersangka kasus dugaan korupsi investasi di Blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia pada 2009.

"Dia masih sebagai saksi tersangka lain. Nanti ini akan di-split (bagi)," kata Jaksa Agung HM Prasetyo di Kantor Kejagung, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat, 14 September 2018. 

Karen terakhir diperiksa Kejagung pada Rabu, 12 September 2018. Kala itu, ia diperiksa sebagai saksi untuk tiga tersangka lain, yakni Direktorat Hulu PT Pertamina Bayu Kristanto, eks Direktur Keuangan PT Pertamina Fredrik Siahaan, dan Chief Legal Council and Complience PT Pertamina Genades Panjaitan. "Nanti masing-masing akan diperiksa saksi tersangka lain."

Kejagung menetapkan Karen sebagai tersangka pada 22 Maret 2018. Sejak itu, Karen sudah dua kali dipanggil untuk menjalani pemeriksaan sebagai tersangka, namun selalu mangkir. Kejagung berharap panggilan Karen bisa hadir pada panggilan ketiganya nanti. 

Kasus yang menyeret petinggi Pertamina ini terjadi pada 2009. Saat itu, Pertamina melalui anak perusahaannya, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) mengakuisisi saham sebesar 10% terhadap ROC Oil Ltd untuk menggarap Blok BMG.

Perjanjian dengan ROC Oil atau Agreement for Sale and Purchase -BMG Project diteken pada 27 Mei 2009. Nilai transaksinya mencapai US$31 juta.

Akibat akuisisi tersebut, Pertamina harus menanggung biaya yang timbul lainnya (cash call) dari Blok BMG sebesar US$26 juta. Melalui dana yang dikeluarkan setara Rp568 miliar itu, Pertamina berharap Blok BMG bisa memproduksi minyak hingga 812 barrel per hari.

Namun Blok BMG hanya menghasilkan minyak mentah untuk PHE Australia Pte Ltd rata-rata sebesar 252 barel per hari. Pada 5 November 2010, Blok BMG ditutup, setelah ROC Oil memutuskan penghentian produksi minyak mentah. Alasannya, blok ini tidak ekonomis jika diteruskan produksi.

Investasi yang sudah dilakukan Pertamina akhirnya tidak memberikan manfaat maupun keuntungan dalam menambah cadangan dan produksi minyak nasional. Akibatnya, muncul kerugian keuangan negara dari Pertamina sebesar US$31 juta dan US$26 juta atau setara Rp568 miliar.

Dua dari empat tersangka kasus ini sudah dibui, yakni Frederik Siahaan, dan Bayu Kristanto. Sementara, Karen dan Genades belum ditahan.


(AGA)