Dirjen Bea Cukai Bantah Hasil Investigasi Ombudsman di Bandara Soetta

Purba Wirastama    •    Selasa, 21 Mar 2017 05:25 WIB
bandara soetta
Dirjen Bea Cukai Bantah Hasil Investigasi Ombudsman di Bandara Soetta
(dari ki-ka: Kepala Bea Cukai Soetta Erwin Situmorang, Direktur Jenderal Bea dan Cukai Heru Pambudi, Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo dan anggota ORI Adrianus Meliala - MTVN/Purba Wirastama.

Metrotvnews.com, Jakarta: Direktur Jenderal Bea dan Cukai Heru Pambudi membantah temuan hasil investigasi Ombudsman Republik Indonesia (ORI) di Terminal 2 Kedatangan Bandara Soekarno Hatta. Temuan antara lain terkait pemeriksaan barang oleh petugas bea cukai yang dinilai kurang tegas dan menyeluruh. 

"Sudah ada klarifikasi sehingga ada beberapa poin yang sudah selesai. Ada yang masih ditindaklanjuti dengan PIC (person in-charge) terkait di luar kepabeanan," ujar Heru seusai bertemu dengan anggota ORI Adrianus Meliala di kantor ORI, Jalan HR Rasuna Said, Karet Kuningan,Jakarta Selatan, Senin 20 Maret 2017.

Heru tak mau banyak membeberkan temuan itu. Tapi, salah satunya adalah soal kebijakan pemeriksaan barang penumpang di area customs. ORI menuding petugas di area customs hanya melakukan pemeriksaan secara acak dan tidak semua barang penumpang melewati X-Ray.

Menurut Heru, kebijakan tersebut sudah sesuai dasar hukum dan international best practices. Pemeriksaan dilakukan secara selektif sesuai standar dan memang tidak semua diperiksa melalui X-Ray.

Dalam rilis yang dibagi kepada wartawan, ORI menemukan empat macam praktik maladministrasi yang dilakukan oleh petugas bea cukai Bandara Soetta. Temuan didapat dengan metode mystery shopping, atau menyamar sebagai penumpang nakal, oleh tim yang terbang dari Singapura menuju Jakarta.

Namun temuan ini pun kemudian diklarifikasi oleh Adrianus Meliala setelah rapat tertutup dengan Heru Pambudi, Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo, dan Kepala Bea Cukai Soetta Erwin Situmorang. Menurut Adrianus, hasil tersebut adalah temuan awal yang belum dapat diberitakan.

"Kami sepakat untuk mengatakan bahwa itu bukan konklusi akhir kami karena harus ditarik ke konteks hal-hal lain," kata Adrianus.

Lebih lanjut Adrianus mengakui kelemahan metode mystery shopping yang dilakukan ORI untuk investigasi tersebut. Meskipun temuan riil karena apa adanya dan tidak disiapkan, metode tersebut belum dapat mengarah pada kesimpulan.

"Kelemahannya amat tergantung pada hari itu, situasi itu, sehingga susah untuk digeneralisir," ujar Adrianus.

Mardiasmo juga menyebut bahwa temuan ORI tersebut masih terlalu dini. "Ombudsman On the Spot (nama program ORI) lebih ke sampling, bukan investigasi yang gimana (mendalam). Jadi sifatnya lebih ke temuan sementara," kata Mardiasmo. 


(REN)

KPK Masih Telusuri Dugaan Keterlibatan 7 Penyidik di Kasus KTP-el

KPK Masih Telusuri Dugaan Keterlibatan 7 Penyidik di Kasus KTP-el

4 hours Ago

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memastikan pemeriksaan internal terhadap tujuh orang penyidi…

BERITA LAINNYA