Dirjen Otda Kemendagri Penuhi Panggilan KPK

Juven Martua Sitompul    •    Kamis, 10 Jan 2019 18:52 WIB
meikartaOTT Pejabat Bekasi
Dirjen Otda Kemendagri Penuhi Panggilan KPK
Juru Bicara KPK Febri Diansyah. Foto: MI/Rommy Pujianto.

Jakarta: KPK memeriksa Dirjen Otonomi Daerah (Otda) Kementerian Dalam Negeri Soni Sumarsono. Dia diperiksa sebagai saksi terkait kasus dugaan suap izin proyek pembangunan Meikarta, milik Lippo Group di Bekasi.
 
"Terkait dengan pemeriksaan saksi dalam kasus dugaan suap perizinan Meikarta," kata juru bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Jakarta, Kamis, 10 Januari 2018.
 
Febri mengungkapkan, ada beberapa hal yang ingin dikonfirmasi penyidik dari Soni. Salah satunya, pertemuan sejumlah pihak untuk membahas perizinan proyek Meikarta.
 
KPK mensinyalir ada sejumlah pertemuan antara Pemprov Jabar dan Pemkab Bekasi, guna 'melapangkan' izin proyek Meikarta. Sayangnya, Febri tak menyebut secara detail pihak yang dimaksud.
 
"Ada porsi juga dari Kemendagri melalui Ditjen Otda pada pertemuan tersebut, itu yang kami dalami lebih lanjut," ujarnya.
 
Febri menegaskan telah menemukan fakta-fakta kuat jika proses perizinan Meikarta sudah bermasalah sejak awal. Termasuk, mengantongi nama-nama yang terlibat dalam skandal suap Meikarta tersebut.
 
KPK terus mendalami skandal suap Lippo Group. Sejumlah fakta baru terungkap pada proses penyidikan, salah satunya aliran dana suap Meikarta ke sejumlah anggota DPRD Bekasi dan DPRD Jabar.

Baca: Sejumlah Legislator Bekasi Kembalikan Uang Suap Meikarta

Direktur Operasional Lippo Group Billy Sindoro, CEO Lippo Group James Riady, dan mantan Presiden Direktur PT Lippo Cikarang Tbk Toto Bartholomeus pun telah diperiksa penyidik untuk mengungkap kasus ini lebih terang. Termasuk, Presiden Direktur PT Lippo Karawaci Tbk Ketut Budi Wijaya, Corporate Affairs Siloam Hospital Group Josep Christoper Mailool, Direktur Keuangan PT Lippo Cikarang Tbk Soni, Direktur Keuangan PT Lippo Karawaci Tbk Richard Setiadi dan Direktur Keuangan PT Mahkota Sentosa Utama (PT MSU) Hartono.
 
Dari pemeriksaan itu, terungkap adanya pertemuan-pertemuan antara petinggi Lippo Group dan Neneng. Salah satunya, James Riady yang mengakui pernah bertemu Neneng dengan alasan silaturahmi persalinan Neneng. Billy Sindoro juga mengaku dua kali bertemu Neneng.
 
Pertemuan pertama dilakukan untuk memberi selamat atas persalinan Neneng. Sedangkan pada pertemuan kedua, Billy dan Neneng membahas pembangunan Rumah Sakit (RS) Siloam di Meikarta.
 
Meikarta merupakan salah satu proyek prestisius milik Lippo Group. Penggarap proyek Meikarta ialah PT Mahkota Sentosa Utama, yang merupakan anak usaha dari PT Lippo Cikarang Tbk. Sementara PT Lippo Cikarang Tbk di bawah naungan Lippo Group.
 
Secara keseluruhan, nilai investasi proyek Meikarta ditaksir mencapai Rp278 triliun. Meikarta menjadi proyek terbesar Lippo Group selama 67 tahun grup bisnis milik Mochtar Riady itu berdiri.
 
Dalam kasus ini, Billy Sindoro diduga memberikan uang Rp7 miliar kepada Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin dan anak buahnya. Uang itu diduga bagian dari fee yang dijanjikan Rp13 miliar terkait proses pengurusan izin proyek Meikarta.




(FZN)