Aliran Dana Saracen Dicocokkan dengan Hasil Laporan PPATK

Damar Iradat    •    Rabu, 11 Oct 2017 08:16 WIB
media sosialujaran kebencian
Aliran Dana Saracen Dicocokkan dengan Hasil Laporan PPATK
Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto/MTVN/Lukman Diah Sarii

Metrotvnews.com, Jakarta: Polisi masih mencocokan aliran dana Saracen dan Laporan Hasil Analisis (LHA) dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Setyo Wasisto mengatakan, pencocokan dilakukan untuk menemukan bukti aliran dana sejumlah pihak kepada Saracen.

"Kalau nanti cocok akan dikejar terus karena itu bukti awal lagi,” kata Setyo di Akademi Kepolisian, Semarang, Jawa Tengah, Selasa 10 Oktober 2017.

Setyo menjelaskan, Kapolri Jendral Tito Karnavian sejak awal sudah menginstruksikan aparat membongkar sindikat ini. Termasuk mengungkap keterlibatan sejumlah pihak yang menggunakan jasa kelompok tersebut.

Setyo menjelaskan, penyidikan kasus Saracen seperti sebuah siklus. Penyidikan terus dilakukan ketika informasi-informasi baru didapatkan.

"Itu akan terus menggelinding. Berikan waktu kepada penyidik untuk bekerja dulu," tegas dia.

Setyo juga mengatakan, berkas perkara tersangka Sri Rahayu telah rampung alias P21 dan bakal disidang. Penyidik juga tengah melengkapi berkas perkara untuk Jasriadi.

Saracen mulai jadi perhatian publik setelah tiga pengurusnya yakni MTF, SRN dan JAS ditangkap tim Siber Bareskrim Polri.  Mereka dijerat Pasal 45A ayat 2 jo Pasal 28 ayat 22 UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan UU ITE dengan ancaman 6 tahun penjara dan/atau Pasal 45 ayat 3 jo Pasal 27 ayat 3 UU ITE dengan ancaman 4 tahun penjara.

Kelompok Saracen mulai eksis menyebarkan ujaran kebencian berkonten SARA sejak November 2015. Mereka menyebarkan isu SARA melalui grup Facebook Saracen News, Saracen Cyber Team, situs Saracennews.com, dan grup lain yang menarik minat warganet.

Saracen mengunggah konten ujaran kebencian dan berbau SARA berdasarkan pesanan. Media-media yang mereka miliki, baik akun Facebook maupun situs, akan memasang berita atau konten yang tidak sesuai dengan kebenaran, tergantung permintaan.

Para pelaku menyiapkan proposal untuk disebar kepada pemesan. Setiap proposal ditawarkan dengan harga puluhan juta rupiah. Akun yang tergabung dalam jaringan grup Saracen lebih dari 800 ribu.


(OJE)