Perkembangan Teknologi Perkuat Indoktrinasi Radikalisme

M Sholahadhin Azhar    •    Jumat, 16 Jun 2017 02:05 WIB
radikalisme
Perkembangan Teknologi Perkuat Indoktrinasi Radikalisme
Deputi I Bidang Pencegahan Perlindungan dan Deradikalisasi BNPT, Abdul Rahman Kadir (baju batik) saat Halaqoh dan buka bersama Garda Pemuda Nasional Demokrat di DPP Nasional Demokrat - MTVN/M Sholahadhin Azhar,

Metrotvnews.com, Jakarta: Perkembangan teknologi memengaruhi aspek kehidupan, termasuk radikalisasi. Kini proses persuasi itu makin mudah dilakukan dari jauh.

"Pengaruhnya besar untuk indoktrinasi radikalisme, propaganda dan lainnya," kata Deputi I Bidang Pencegahan Perlindungan dan Deradikalisasi BNPT, Abdul Rahman Kadir saat halaqoh dan buka bersama Garda Pemuda Nasional Demokrat di DPP Nasional Demokrat, Gondangdia, Cikini, Jakarta Pusat, Kamis 15 Juni 2017.

Dulu, pengaruh ideologi radikal disebarkan dengan kontak secara langsung, tapi tidak saat ini. Karena perkembangan teknologi bisa mempertemukan orang yang berjauhan secara real time.

Contohnya, model nikah via media sosial atau baiat dari aplikasi Whatsapp yang dilakukan jaringan ekstremis atau radikal. Model seperti ini diakui calon pelaku bom bunuh diri yang tertangkap di Bekasi sebelum melaksanakan aksi di Istana Negara.

"Dia nikah dengan suaminya secara online, dibaiat juga online," kata Abdul.

Kondisi ini tak bisa dihindari, mengingat 51% dari total penduduk Indonesia mengakses internet. Untuk itu BNPT gencar melakukan pencegahan menularnya paham radikal.

Ada dua jurus yakni pendekatan lunak dan pendekatan keras untuk menghadapi hal tersebut. Pertama yakni soft approach yang terdiri dari bagaimana membentengi masyarakat dari paham radikal.

Pendekatan lunak kedua yakni deradikalisasi yang dilakukan terhadap keluarga yang sudah terpapar radikalisme. Termasuk mereka yang tengah dihukum di penjara dan menjalani proses hukum lain.

"Ada 200 orang lebih di lapas yang sedang kita bina. Ini ditujukan ke masyarakat, juga mantan teroris yang akan bebas," beber dia.

Deradikalisasi sangat penting, utamanya terhadap para mantan napi. Sebab ketika keluar nanti mereka tidak memiliki pekerjaan dan rentan terpapar paham radikal lagi, diajak bergabung kembali.

Sementara pendekatan keras atau hard power, diserahkan seluruhnya pada penegak hukum. "BNPT hanya melakukan dukungan data, bukan tindakan keras. Dan semuanya dikomunikasikan ke nasional dan internasional," pungkas Abdul.


(REN)

Pakar Nilai Sidang KTP-el Setya Novanto Sudah Seharusnya Dilanjutkan

Pakar Nilai Sidang KTP-el Setya Novanto Sudah Seharusnya Dilanjutkan

14 minutes Ago

Pakar hukum pidana Asep Iwan Iriawan menilai proses praperadilan Setya Novanto seharusnya gugur…

BERITA LAINNYA