Eks Panitera Pengganti PN Jaksel Didakwa Terima Rp425 Juta

Damar Iradat    •    Kamis, 11 Jan 2018 14:24 WIB
kasus suap
Eks Panitera Pengganti PN Jaksel Didakwa Terima Rp425 Juta
Mantan Panitera Pengganti Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Tarmizi - ANT/Wahyu Putro A.

Jakarta: Mantan Panitera Pengganti Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Tarmizi, didakwa menerima uang sejumlah Rp425 juta. Uang itu ia terima dari pengacara PT Aquamarine Divindo Inspection, Akhmad Zaini.

"Didakwa melakukan beberapa perbuatan yang ada hubungan sedemikian rupa sehingga harus dipandang sebagai satu perbuatan berlanjut, yaitu menerima hadiah uang," kata Jaksa pada KPK Dody Sukmono di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis, 11 Januari 2018.

Padahal, lanjut jaksa, patut diduga uang tersebut diberikan untuk memengaruhi hakim PN Jakarta Selatan untuk menolak gugatan Eastern Jason Fabrication Services. Selain itu uang tersebut juga ditujukan agar gugatan rekovensi (tuntutan balik) serta mengabulkan sita jaminan PT Aqua Marine Divindo Inspection selaku pihak tergugat.

Jaksa mengungkapkan sekitar Mei 2017 Akhmad Zaini menemui Tarmizi di ruang Panitera Pengganti PN Jakarta Selatan. Saat itu, Akhmad Zaini menyampaikan akan menghadiri sidang sekaligus meminta tolong agar disampaikan kepada Ketua Majelis Hakim yang mengadili perkara tersebut, Djoko Indiarto.

Pada awal Juni 2017, Tarmizi menyampaikan kepada Djoko soal permintaan Akhmad Zaini. Dalam pertemuan itu, ia menyampaikan jika Akhmad Zaini menanyakan terkait perkara tersebut sudah dipelajari atau belum. Saat itu, Djoko mengaku belum mempelajari perkara tersebut.

Kemudian, pada 15 Juni 2017, Akhmad Zaini menyampaikan kepada Tarmizi jika pihaknya sanggup memberikan THR sejumlah Rp25 juta. Ia juga meminta nomor rekening Tarmizi untuk mengirimkan uang tersebut.

Tarmizi lalu mengirimkan nomor rekening atas nama Junaedi alias Tedy Junaedi agar uang dikirim ke rekening itu. Kemudian, pada 20 Juni 2017, Akhmad Zaini mengirimkan uang sejumlah Rp25 juta yang dijanjikannya.

Sehari berselang setelah pengiriman uang, Tarmizi menyampaikan kepada Akhmad Zaini jika dirinya telah dipanggil kembali oleh Djoko Indiarto. Saat itu ia menyampaikan jika Djoko telah memercayainya sebagai orang yang berkomunikasi dengan pihak PT Aquamarine Divindo Inspection.

"Pada 29 Juni, persidangan perkara gugatan perdata dimulai kembali. Akhmad Zaini kemudian menemui terdakwa dan menanyakan soal kompensasi apa yang harus diberikan agar perkaranya dapat dimenangkan," tutur jaksa.

Tarmizi kemudian menyatakan jika Akhmad Zaini perlu menyiapkan uang sejumlah Rp750 juta. Atas permintaan itu, Akhmad Zaini akan mempertimbangkannya.

Selanjutnya, pada 16 Juli 2017 Tarmizi mengabari Akhmad Zaini jika ia akan pergi ke Surabaya beserta rombongan keluarga dan teman-temannya. Akhmad Zaini lalu memesankan kamar untuk menginap di Hotel Garden Palace Surabaya serta memberikan fasilitas lainnya berupa hotel/villa di Kota Batu, Malang, dengan total harga Rp4,5 juta. 

"Akhmad Zaini juga memberikan fasilitas mobil selama 3-4 hari kepada terdakwa dan rombongan dengan nilai harga sejumlah Rp5 juta yang dibayar PT AMDI," lanjut dia. 

Jaksa melanjutkan, masih pada hari yang sama, Tarmizi dan Akhmad Zaini bertemu di kamar hotel untuk membicarakan tindak lanjut upaya memenangkan perkara. Pada pertemuan itu, Akhmad Zaini meminta agar Tarmizi memengaruhi hakim mengabulkan tiga paket permohonan dari PT AMDI.

"Terdakwa kemudian menyanggupi permintaan Akhmad Zaiini dan mengatakan jika majelis hakim meminta uang Rp750 juta," jelas jaksa Dody.

Namun, pihak PT AMDI merasa keberatan dengan permintaan Tarmizi. Kedua pihak akhirnya menyepakati uang yang akan diberikan yakni Rp400 juta. 

Pada 13 Agustus 2017, Tarmizi kembali menemui Djoko Indiarto. Dalam pertemuan itu, ia mengonfirmasi kembali soal permintaan Tarmizi ke Djoko.

Untuk merealisasikan permintaan Tarmizi, pada 16 Agustus, Akhmad Zaini mengirimkan uang Rp100 juta ke rekening Junaedi. Setelah itu, Akhmad menemui Tarmizi di ruang panitera pengganti PN Jakarta Selatan untuk memberikan cek senilai Rp250 juta. 

Atas perbuatnnya, Tarmizi didakwa melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 11 Undang-undang nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU nomor 20 tahun 2001 jo Pasal 64 ayat 1 KUHP.



(REN)

KPK Terima Surat Pemeriksaan Etik Fredrich dari Peradi

KPK Terima Surat Pemeriksaan Etik Fredrich dari Peradi

3 hours Ago

Peradi mengajukan surat pemeriksaan etik terhadap Fredrich ke KPK.

BERITA LAINNYA