BNPT Riset Radikalisme di Dunia Pendidikan

   •    Kamis, 20 Apr 2017 12:46 WIB
radikalisme
BNPT Riset Radikalisme di Dunia Pendidikan
Kepala BNPT Suhardi Alius. Antara Foto/Puspa Perwitasari

Metrotvnews.com, Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) berusaha mengidentifikasi radikalisme di dunia pendidikan, terutama di kampus. Kepala BNPT Komjen Suhardi Alius mengatakan, saat ini tidak ada lini yang benar-benar steril dari radikalisme, termasuk dunia pendidikan.

BNPT bekerja sama dengan civitas Universitas Maarif Hasyim Latif (Umaha) Sidoarjo untuk riset radikalisme di dunia pendidikan. Menurut dia, beberapa kasus membuktikan para pelaku radikal berasal dari golongan ekonomi mampu dan berpendidikan cukup, bahkan beberapa di antaranya sudah bergelar akademis doktor.

Suhardi berharap riset soal radikalisme dapat memberi masukan kepada BNPT mengenai tren radikalisme, termasuk cara mengatasinya. Di beberapa daerah, radikalisme memiliki karakter spesifik dan perlu diperlajari serta diantisipasi dengan cara yang spesifik dan fundamental.

Ke depan, kata dia, kerja sama terkait riset radikalisme supaya diperluas. Semakin memiliki banyak referensi riset kampus, BNPT dapat lebih efektif dan efisien membendung tumbuhnya radikalisme yang sudah merasuk hampir ke semua lini masyarakat.

"Kami ingin ada identifikasi. Makin banyak identifikasi, makin kami kaya dengan data masalah apa yang terjadi, fenomenanya. Bisa saja daerah punya spesifikasi tertentu tapi di daerah lain beda lagi. Informasi itu kami kemas maka kita dapat keragaman data dan bisa diimplementasikan secara nasional," kata Suhardi saat mendantangani nota kerja sama dengan Umaha di Jakarta, 20 April 2017.

Suhardi mengatakan, radikalisme perlu perhatian serius dari setiap unsur masyarakat. Salah satu antisipasi yang dapat dilakukan adalah lewat pendekatan komunikasi yang baik antarindividu di tengah masyarakat.

Bagi kalangan siswa dan mahasiswa, perlu perhatian civitas akademika dan keluarga. Dia mengatakan peranan guru, sekolah, dosen dan rektor sangat signifikan dalam mengatisipasi tumbuhnya radikalisme pelajar serta mahasiswa sejak awal di lingkungan luar rumah. Sedangkan di rumah adalah keluarga.

BNPT fokus dalam dua hal itu, salah satu yang diupayakan adalah dengan memanfaatkan riset dunia pendidikan.

Rektor Umaha Achmad Fathoni Rodli mengatakan pihaknya telah memulai riset terkait radikalisme dengan kerja sama lintas kampus. Kerja sama dengan BNPT diharapkannya bisa memberi sumbangsih pencegahan radikalisme di dunia pendidikan.

"Kami sudah memetakan beberapa daerah pinggiran. Daerah dengan basis keagamaan bisa kami pantau. Tapi di daerah yang pendidikannya nonkeagamaan justru sangat rentan terhadap radikalisme. Mereka tidak pernah mengaji dan mengkaji keagamaan, tapi berbagai terjemahan mereka adopsi yang bisa menyebabkan pemahaman menyimpang tentang agama," ujarnya. (Antara)


(TRK)