Ahli Dicecar Hakim Soal Keabsahan CCTV Sebagai Alat Bukti

Arga sumantri    •    Kamis, 22 Sep 2016 18:33 WIB
kematian mirna
Ahli Dicecar Hakim Soal Keabsahan CCTV Sebagai Alat Bukti
Saksi ahli hukum pidana Universitas Brawijaya Masruchin Ruba'i memberi kesaksian saat persidangan ke-24 kasus kematian Wayan Mirna Salihin di PN Jakpus -- ANT/Rosa Panggabean

Metrotvnews.com, Jakarta: Rekaman kamera pengintai (CCTV) di Kafe Olivier jadi perdebatan dalam sidang ke-24 kasus kematian Wayan Mirna Salihin. Terjadi pro-kontra, bisa atau tidak rekaman CCTV jadi sebuah barang bukti.

Pada Pasal 184 KUHAP, merinci terkait alat bukti yang sah digunakan untuk pembuktian tindak pidana. Ayat satu dalam pasal tersebut menguraikan lima alat bukti yang dinyatakan sah sebagai bahan pembuktian sebuah tindak pidana, yaitu keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk, dan keterangan terdakwa.

Hakim Ketua Kisworo pun menanyai Masruchin Ruba’i. Ia adalah saksi ahli hukum pidana dari Universitas Brawijaya yang dihadirkan tim pengacara terdakwa Jessica Kumala Wongso.

"Apakah CCTV itu bisa jadi barang bukti alat elektronik sesuai 184 KUHAP?" tanya Kisworo di ruang sidang Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Kamis (22/9/2016).

Ruba'i ragu-ragu menjawab. Dia mengaku tidak bisa memastikan CCTV masuk kategori alat bukti atau barang bukti. Pasalnya, keterangan terkait alat bukti elektronik baru dikenal sebagai bahan pembuktian pada Undang-undang Tindak Pidana Korupsi (Tipikor).

"Bisa barang bukti kalau berkaitan. Tapi kalau sesuai Pasal 184 KUHAP, bukan alat bukti,” jawab Ruba'i.

(Baca: Pengacara Jessica Semakin Meragukan Rekaman CCTV)

Hakim Anggota Binsar Gultom juga tertarik menggali soal posisi CCTV dalam lampiran alat bukti. Binsar kemudian minta penegasan, apakah CCTV benar atau bisa masuk menjadi salah satu, dari lima, ketentuan alat bukti yang sah sesuai KUHAP.

"Harusnya dimasukan ke perluasan, kalau dia salah satu dari lima alat bukti petunjuk. Bukan petunjuknya,” ujar Ruba’i.

(Baca: Asal-usul Sianida Harus Dibuktikan dalam Kasus Mirna)

Pada kasus ini, Mirna diduga tewas karena racun sianida. Dia meregang nyawa tak lama setelah menyeruput kopi es ala Vietnam di Kafe Olivier, pada 6 Januari 2016. Kopi untuk Mirna dipesankan oleh Jessica, teman kuliahnya di Billyblue College, Australia.

Jessica kemudian ditetapkan sebagai terdakwa. Dia terancam dijerat Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana dengan ancaman hukuman mati.


(NIN)

Video /