Polisi Periksa Urin Penabrak Produser RTV

Deny Irwanto    •    Senin, 12 Feb 2018 18:37 WIB
kecelakaan lalu lintas
Polisi Periksa Urin Penabrak Produser RTV
Mobil yang menabrak produser RTV, Sandy Syafik - Metro TV.

Jakarta: Polisi masih melakukan pemeriksaan intensif terhadap MJ, pengemudi mobil Dodge Journey yang menabrak produser Rajawali Televisi (RTV), Sandy Syafik. 

Dirlantas Polda Metro Jaya, Kombes Halim Pagarra mengatakan, pihaknya juga memeriksa urin MJ. Ini untuk mengetahui apakah MJ di bawah pengaruh obat terlarang atau tidak saat kejadian.

"Kemudian kita sudah melakukan pemeriksaan urin tersangka, hasil urinnya nanti akan didapatkan satu minggu setelah pemeriksaan," kata Halim di Polda Metro Jaya, Senin 12 Februari 2018.

Halim menuturkan, pada pemeriksaan awal MJ tidak terlihat sedang di bawah pengaruh obat terlarang. Sementara terkait kecepatan mobil, lanjut Halim, pihaknya masih menunggu hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP). 

Dia menambahkan hasil olah TKP akan disandingkan dengan pengakuan MJ yang sudah diperiksa penyidik.  "Masih menunggu hasil olah TKP. Tapi dari keterangan tersangka sendiri sekitar 50 sampai 60 kilometer per jam," beber Halim.

(Baca juga: Penabrak Produser RTV Ditetapkan sebagai Tersangka)

Sebelumnya Kasubdit Pembinaan dan Penegakkan Hukum Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Budiyanto mengatakan, MJ dengan didampingi sejumlah rekannya menyerahkan diri ke Subdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya pada Sabtu, 10 Februari sekitar pukul 14.45 WIB. 

MJ yang belakangan diketahui berusia 61 tahun mendatangi kantor polisi menggunakan mobil Dodge Journey yang menabrak korban, yang tengah bersepeda dengan sejumlah kawannya,  hingga tewas. MJ mengakui menabrak korban setelah berusaha memacu kendaraannya dari sebelah kiri di Jalan Gatot Subroto. 

Setelah menabrak korban, MJ berusaha melarikan diri karena panik. Kemudain MJ berusaha menenangkan diri sampai akhirnya memilih untuk menyerahkan diri ke Polda Metro Jaya.

"Sementara masih diduga ya. Kecepatan mobil juga diketahui 60 kilometer per jam. Namun kita tidak tinggal percaya. Ada tahapan untuk mencari kebenarannya," ucap Budiyanto.


 


(REN)