Arief Jawab Tudingan Katebelece di Fit and Proper Test Hakim MK

M Rodhi Aulia    •    Rabu, 06 Dec 2017 13:38 WIB
seleksi hakim mk
 Arief Jawab Tudingan Katebelece di <i>Fit and Proper Test</i> Hakim MK
Fit and proper test Hakim MK Arief Hidayat - Medcom.id/M Rodhi Aulia.

Jakarta: Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Arief Hidayat menjawab tuduhan katabelece (nota dari pejabat kepada bawahan untuk dilaksanakan) terkait Kejaksaan Agung. Jawaban itu ia beberkan dalam uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) Hakim MK di Komisi III DPR.

"Bahwa pada saat itu ada seorang jaksa junior kasi di salah satu kejaksaan negeri di Jawa Timur," kata Arief memulai cerita di Komisi III DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 6 Desember 2017.

Arief menuturkan jaksa itu datang dalam kapasitasnya sebagai panitia Dies Natalis Fakultas Hukum Universitas Jember. Jaksa itu datang bersama rekannya mengantarkan sebuah surat permohonan agar Arief dapat berpidato dalam dies natalis tersebut.

"Pada waktu itu saya bersedia menjadi pembicara dalam rangka dies natalis," ujar dia.

Semula Arief mengaku tidak tahu bahwa pengantar surat adalah jaksa. Di samping tidak mengenakan seragam, Arief mengaku baru pertama kali bertemu dan berkenalan.

"Dia bukan family saya, dia bukan saudara saya, saya kenal juga pada waktu itu. Hanya kenal sekali itu. Dia datang karena dia panitia dies natalis. Seorang jaksa dan alumni Universitas Jember," ucap dia.

Setelah berbincang Arief baru tahu kalau si pengantar surat adalah Jaksa. Usai mengantar surat ia kembali ke Kejaksaan Agung.

"Secara kebetulan saya baru diminta membuat rekomendasi penilaian guru besar pak Widyopramono. Waktu itu Jampidsus (di Kejaksaan Agung)," ujar dia.

Arief mengaku mengenal Widyopramono. Pasalnya ia adalah guru besar di Universitas Diponegoro (Undip) dan mengetahui Widyopramono sering mengajar S2 dan S3 di Undip serta karya ilmiahnya dinilai memenuhi persyaratan sebagai guru besar.

"Rekomendasi itu saya taruh di amplop tertutup. Saya tidak boleh ke kejaksaan, kalau Anda mau ke kejaksaan di Jakarta saya mau nitip tolong Anda sampaikan ke Pak Widyopramono," kenang Arief. 

Arief menyadari jaksa tersebut masih junior dan tidak berani menghadap seniornya di kejaksaan. Sehingga Arief menyertakan sebuah surat pengantar agar jaksa itu bisa langsung mengantarkan kepada Widyopramono.

"Surat itu adalah mengantarkan, namanya ini, ini, seorang jaksa di sana, dan dia juga pingin meniru sebagai Pak Widyopramono. Personal Widyopramono dia seorang jaksa yang saya kagumi, karena dia sekolah doktor, rajin mengajar dan pingin menjadi guru besar," beber dia.

Arief menegaskan sebagai salah satu persyaratan mendapatkan gelar guru besar, dibutuhkan sebuah rekomendasi dari guru besar. Arief meyakini apa yang ia lakukan itu tidak bertentangan dengan aturan.

"Surat ini dibawa yang bersangkutan mengantarkan saja, bahwa saya telah membuat surat rekomendasi. Tapi ternyata kemudian jadi masalah. Bukan saudara saya, saya hanya memperkenalkan bahwa yang bersangkutan seorang jaksa junior, tolong bisa dibina seperti bapak menjadi jaksa yang akademikus," beber dia.

Meski demikian, Arief mengaku sempat menjalani pemeriksaan di dewan etik. Ia dijatuhi hukuman ringan berupa teguran secara lisan.

"Sekarang sudah tidak ada masalah," tandas dia.
 


(REN)

ICW: Nama Hilang di Dakwaan Setnov Karena KPK Hati-hati

ICW: Nama Hilang di Dakwaan Setnov Karena KPK Hati-hati

1 hour Ago

Peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW) berpendapat hilangnya sejumlah nama politisi yang seb…

BERITA LAINNYA