Saksi Diperintah Memberikan Keterangan Palsu di KPK

Fachri Audhia Hafiez    •    Rabu, 09 Jan 2019 19:01 WIB
kasus korupsi
Saksi Diperintah Memberikan Keterangan Palsu di KPK
Sidang pemeriksaan saksi dengan terdakwa mantan Direktur Utama PT Asuransi Jasa Indonesia (PT Asuransi Jasindo) Budi Tjahjono - Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez.

Jakarta: Komisaris di salah satu perusahaan travel haji dan umrah, Kiagus Emil Fahmy Cornain diduga mengarahkan stafnya, Tedi alias KM Iman Tauhid Khan untuk memberi keterangan palsu pada penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Fahmy disebut mengatur skenario. 

Hal tersebut disampaikan Iman saat bersaksi untuk terdakwa Mantan Direktur Utama PT Asuransi Jasa Indonesia (PT Asuransi Jasindo) Budi Tjahjono di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Kemayoran, Jakarta Pusat.

"Pak Fahmy bilang 'kamu tenang jangan sebut nama saya, kamu dipanggil KPK, dua sampai tiga kali paling clear.' Pak Fahmy yang ngatur penasihat hukum, dia juga yang bayar," beber Iman saat bersaksi, Rabu, 9 Januari 2019.

Iman mengaku Fahmy meminta bertemu berkali-kali. Fahmy mendesak Iman untuk tidak menyampaikan fakta yang sebenarnya saat diperiksa KPK. Iman diiming-imingi uang Rp1 miliar dan jaminan hidup bagi keluarganya.

"Pak Fahmy bilang gini, kamu bertahan saja, kamu saya jamin. Kamu saya kasih Rp1 miliar," ujar Iman.

Iman mengaku tidak mengikuti kemauan Fahmy. Dia memilih berterus terang ke penyidik.

"Kepada penyidik saya minta waktu mau ngomong benar atau salah. Setelah itu saya buka semua, berikan bukti tulisan saya diarahkan," ucap Iman.

Fahmy sebelumnya juga bersaksi untuk Budi Tjahjono. Dia mengaku bahwa merekomendasikan Iman untuk menjadi agen Jasindo untuk Budi.

(Baca juga: Eks Dirut Jasindo Dapat Rp3 Miliar Merekayasa Kasus)

Budi diduga merekayasa kegiatan agen dan pembayaran komisi yang diberikan kepada agen PT Asuransi Jasindo seolah-olah sebagai imbalan jasa kegiatan agen atas penutupan asuransi aset dan konstruksi pada BP Migas-KKKS (Kontraktor Kontrak Kerja Sama) tahun 2010 hingga 2012 dan tahun 2012 hingga 2014. Padahal, penutupan tersebut tidak menggunakan jasa PT Asuransi Jasindo.

Budi diketahui mendapat agen fee Rp3 miliar dari Rp3,9 miliar. Sisanya tetap di rekening bank atas nama Iman.

"Ada uang tertinggal di rekening Iman Tauhid (Tedi) Rp994 juta," ujar Fahmy.

Budi Tjahjono didakwa merugikan negara hingga Rp8,46 miliar dan Rp7,58 miliar atau total Rp16,04 miliar. Hal tersebut berdasarkan hasil laporan hasil penghitungan kerugian keuangan negara dari Badan Pemeriksaan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) 17 November 2017.

Dalam surat dakwaan, perbuatan Budi tersebut dilakukan bersama-sama dengan orang kepercayaan mantan Kepala BP Migas Raden Priyono, Kiagus Emil Fahmy Cornain dan mantan Direktur Keuangan dan Investasi PT Asuransi Jasindo Sholihah. Ketiganya diduga mengambil keuntungan pribadi baik secara langsung maupun tidak langsung dari pengambilan keputusan dan kegiatan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Perkara ini bermula dari BP Migas yang berganti nama menjadi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). Sebagai pembina, KKKS melakukan pengadaan jasa penutupan asuransi untuk melindungi aset dan proyek BP Migas. Jasindo merupakan salah satu perusahaan yang melakukan penutupan.
 
Jasindo kemudian menjadi leader konsorsium, karena sebelumnya Jasindo hanya berstatus sebagai co-leader konsorsium dalam penutupan asuransi proyek dan aset BP Migas. Dengan menjadi leader konsorsium, Jasindo mendapatkan laba dan keuntungan premi yang lebih besar.
 
Budi didakwa melanggar Pasal 2 ayat 1 jo Pasal 18 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 jo Pasal 64 ayat 1 KUHP.

(Baca juga: Mantan Dirut Jasindo Didakwa Rugikan Negara Rp16,04 Miliar)
 


(REN)