Novanto dalam Lingkaran Kasus KTP-el

Damar Iradat    •    Selasa, 18 Jul 2017 09:40 WIB
korupsi e-ktp
Novanto dalam Lingkaran Kasus KTP-el
Ketua DPR Setya Novanto. Foto: MTVN.

Metrotvnews.com, Jakarta: Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti jatuh jua. Peribahasa ini mungkin cocok untuk kondisi Ketua DPR Setya Novanto.

Setya terkenal sebagai salah satu politikus yang lihai dalam dunia politik. Namun, untuk kasus dugaan korupsi kartu tanda penduduk elektronik (KTP-el) yang merugikan negara hingga Rp2,3 triliun, ia akhirnya tak lagi bisa mengelak.

Dia telah menyandang status tersangka dalam kasus KTP-el. Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Rahardjo menyebut, Setya ditetapkan sebagai tersangka karena "diduga dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi menyalahgunakan kewenangan sehingga mengakibatkan negara rugi Rp2,3 triliun," kata Agus saat menetapkan Setya tersangka pada Senin, 17 Juli 2017.

Sejak kasus ini masih dalam tahap penyidikan dengan dua orang terdakwa, Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kemendagri Irman dan mantan Direktur Pengelola Informasi Administrasi Kependudukan Ditjen Dukcapil Kemendagri sekaligus pejabat pembuat komitmen Sugiharto, Setya kerap disebut. Dia diduga sebagai salah satu otak di belakang kasus itu.

Bekas Bendahara Partai Muhammad Nazaruddin sesaat sebelum dakwaan untuk Irman dan Sugiharto dibacakan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta sudah sesumbar jika Setya bersama pengusaha Andi Agustinus alias Andi Narogong merupakah tokoh strategis. Dia menilai. dkuanya titik temu lalu lintas uang kepada sejumlah anggota legislatif dan eksekutif.

Saat kasus KTP-el dengan dua terdakwa Irman dan Sugiharto masuk ke persidangan, nama Ketua Umum Golkar itu tercantum dalam surat dakwaan yang dibacakan jaksa penuntut umum (JPU) pada KPK. Dalam surat dakwaan, Irman dan Sugiharto disebut bersama-sama Andi Agustinus alias Andi Narogong, selaku penyedia barang dan jasa pada Kemendagri; Isnu Edhi Widjaya selaku Ketua Konsorsium Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI); Diah Anggraeni selaku Sekjen Kemendagri; Setya Novanto selaku Ketua Fraksi Golkar; dan Drajat Wisnu Setyawan selaku Ketua Panitia Pengadaan Barang/Jasa di Ditjen Dukcapil Kemendagri secara melawan hukum memperkaya diri sendiri, orang lain atau korporasi.

Dalam perjalanannya, peran-peran Setya juga terungkap dari saksi-saksi yang dihadirkan dalam persidangan. Salah satunya kesaksian dari Diah Anggraini. Dia menyebut jika Setya bertemu dengan pemenang tender proyek KTP-el, Andi Agustinus sekitar pukul 06.00 WIB di Hotel Grand Melia.

"Pagi pagi pak Setya Novanto juga tergesa gesa ada acara lain. Hanya menyampaikan Depdagri ada program KTP, program strategi nasional. Ayo kita jaga bersama sama," beber Diah dalam kesaksiannya.

Tidak hanya itu, Diah mengaku jika Novanto juga sempat meminta dirinya menyampaikan kepada Irman dan Sugiharto untuk mengaku tidak mengenalnya. Diah mengaku tidak mengetahui alasan di balik permintaan Setya.

Sementara itu, kesaksian lainnya datang dari mantan Ketua Komisi II DPR RI Chairuman Harahap. Dia mengaku mengenal sosok Andi Narogong setelah diperkenalkan Setya di ruangan kerjanya. "Saat itu dikenalkannya Andi saja," kata dia.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang juga sempat menjadi pimpinan Komisi II DPR RI pun mengakui ada arahan Setya terkait proyek KTP-el. Arahan tersebut didapat Ganjar saat keduanya tak sengaja bertemu di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali.

"Tiba-tiba, saya tiba di bandara, ketemu dan bersalaman. Langsung Novanto bilang, 'jangan galak-galak'. Saya bilang, 'oiya, sudah beres'" kata Ganjar kala itu.

Setya juga disebut-sebut sempat bertemu dengan Ade Komarudin, politikus Golkar. Akom, sapaan Ade, mengaku pernah disambangi Setya di kediamannya. Pada pertemuan di rumahnya yang tak lagi diingat waktunya itu, Novanto menyatakan isu KTP-el sudah aman.

"Pak Novanto bilang, 'Beh kalau soal KTP-el aman'. 'Alhamdulillah kalau aman', saya sampaikan ke Novanto," ujar Akom mengutip pembicaraannya dengan Novanto.

Bukan hanya itu, Direktur Teknik PT Java Trade Utama Jimmy Iskandar Tedjasusila alias Bobby, mengungkap harus menyiapkan jatah 7 persen dari nilai proyek untuk Setya Novanto. Anggota Tim Fatmawati itu mengaku sempat berbicara dengan Direktur PT Murakabi Sejahtera Irvanto Hendra Pambudi yang belakangan diketahui sebagai keponakan Setya Novanto.

Dari pembicaraan tersebut, Irvan mengungkap biaya yang dikeluarkan terkait proyek KTP-el sangat besar. "Irvan sempat bicara biaya besar banget. Saya tanya berapa besar, 7 persen kata dia. Dia bilang buat Senayan," ungkap Bobby.

Kesaksian lainnya datang dari Direktur Utama PT Sandipala Artha Putra Paulos Tannos saat bersaksi lewat telekonferensi di sidang korupsi KTP-el, Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis, 18 Mei 2017. Paulus sempat diajak menemui Setya Novanto yang saat itu menjabat Ketua Fraksi Partai Golkar. Dia diarahkan oleh Andi untuk datang ke rumah Novanto.

Baca: Keterangan Novanto Bisa Membongkar Korupsi KTP-el

Saat di rumah Setya Novanto, Paulus menjelaskan posisi perusahaannya dalam proyek KTP-el. Paulus merasa Andi ingin menunjukkan bahwa dia merupakan orang dekat Novanto. 

Atas fakta-fakta persidangan dari kesaksian para saksi, jaksa KPK pun yakin adanya keterlibatan Setya Novanto dalam kasus KTP-el. Dalam surat tuntutan kepada Irman dan Sugiharto, Novanto disebut bersama dengan dua terdakwa, memperkaya diri sendiri, orang lain dan korporasi.

Novanto dianggap secara sadar bekerja sama dengan kedua terdakwa serta Sekjen Kemendagri Diah Anggraini, Drajat Wisnu, Isnu Edhi, dan Andi Agustinus alias Andi Narogong. Novanto juga disebut bertemu dengan Diah dan Andi Narogong di Hotel Gran Melia Jakarta.

Jaksa juga mengatakan, politikus Partai Golkar itu telah menerima uang dari Direktur PT Quadra Solutions, Anang Sugiana Sudiharjo. Uang itu diserahkan melalui Andi Narogong.

Baca: Fahri Samakan Kasus Novanto dengan Jenderal Budi Gunawan

Saat proyek telah berjalan, Andi Narogong disebut menyerahkan sebagian uang pembayaran kepada Novanto. Pembayaran dilakukan secara bertahap sebanyak empat kali. Jaksa belum memastikan total uang yang diterima Novanto. Namun, uang yang diterima Andi Narogong diyakini mengalir ke Novanto.

Dalam berbagai kesempatan, termasuk saat bersaksi di persidangan, Setya memang kerap membantah isi surat dakwaan atau keterangan dari saksi lainnya. Ia mengaku hanya mengetahui proyek KTP-el merupakan program nasional yang sangat bermanfaat bagi data kependudukan masyarakat. Setya mengaku tidak pernah tahu soal adanya korupsi dalam proyek bernilai Rp5,9 triliun itu.

"Saya tidak tahu, saya tidak pernah tahu," kata Setya saat bersaksi di hadapan majelis hakim Pengadilan Tipikor pada awal April lalu.

Meski kerap berkelit dan terus membantah, toh, tampaknya KPK telah memiliki bukti-bukti yang cukup untuk menjerat Novanto. Ketua KPK Agus Rahardjo memastikan, penyidik KPK telah memiliki dua alat bukti kuat sebelum menetapkan Novanto sebagai tersangka. Penyidik KPK, kata dia, tak mungkin serampangan dalam menetapkan seorang tersangka.


(OGI)

Penyakit Novanto Kembali Bertambah

Penyakit Novanto Kembali Bertambah

1 hour Ago

Setyo menduga vertigo yang diderita Novanto berasal dari penyakit sinusitisnya.

BERITA LAINNYA