Jaksa Farizal Masih Bisa Hirup Udara Bebas

Achmad Zulfikar Fazli    •    Rabu, 21 Sep 2016 21:33 WIB
irman gusman ditangkap
Jaksa Farizal Masih Bisa Hirup Udara Bebas
Farizal_ANTARA_Reno_Esnir

Metrotvenws.com, Jakarta: Jaksa dari Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat Farizal selesai diperiksa penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi. Dia diperiksa sebagai saksi terkait kasus dugaan suap penanganan perkara kuota distribusi gula impor non-SNI dari tersangka Direktur Utama CV Semesta Berjaya Xaveriandy Sutanto.

Farizal yang mengenakan kemeja berwarna krim ini keluar dari Gedung Lembaga Antikorupsi sekira pukul 19.30 WIB. Pria yang diperiksa sekitar enam jam lebih ini lolos dari penahanan KPK. Padahal, tersangka lainnya termasuk Xaveriandy sudah ditahan KPK.

Tak ada komentar apa pun yang keluar dari mulutnya. Ia langsung bergegas meninggalkan KPK usai dijemput empat orang jaksa dari Kejaksaan Agung yang dipimpin oleh Inspektur Muda Bagian Kepegawaian Kejaksaan Agung Wito.

Sementara itu, Pelaksana Harian Kepala Biro Humas KPK Yuyuk Andrianti mengatakan, keputusan penahanan terhadap tersangka ada di tangan penyidik. Menurut dia, penyidik menilai penahanan terhadap Farizal saat ini belum diperlukan sehingga masih bisa menghirup udara bebas.

"Penahanan itu tergantung pada kebutuhan penyidik. Saat ini penyidik belum ada kebutuhan untuk menahan yang bersangkutan," kata Yuyuk kepada wartawan, Rabu (21/9/2016).

Sebagai informasi, Farizal diduga menerima suap Rp 365 juta dari Direktur Utama CV Semesta Berjaya Xaveriandy Sutanto terkait perkara kuota distribusi gula impor non-SNI. Perkara itu tengah disidangkan di Pengadilan Negeri Padang, Sumatera Barat.

Farizal yang merupakan jaksa pada Kejati Sumbar itu mendakwa Xaveriandy. Namun pada praktiknya, Farizal juga seolah-olah sebagai penasihat hukum Xaveriandy dengan cara membuatkan eksepsi dan mengatur saksi-saksi yang menguntungkan.

KPK kemudian menjerat Xaveriandy selaku pemberi suap. Dia disangka melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Sementara itu, Farizal sebagai penerima suap dijerat dengan Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 UU Tipikor.

Sebelum menetapkan keduanya sebagai tersangka, KPK telah menyelidiki terlebih dahulu. Dari pengembangan yang didapat, KPK menemukan informasi yang berhubungan dengan mantan Ketua DPD RI, Irman Gusman.

Dari pengembangan itu pula, Tim Satgas KPK melakukan operasi tangkap tangan (OTT) di Rumah Dinas Ketua DPD RI, kawasan Widya Candra, Jakarta. Di sana Tim Satgas KPK mengamankan sejumlah orang dengan barang bukti uang diduga suap Rp 100 juta.

KPK kemudian menetapkan tiga orang sebagai tersangka hasil OTT tersebut. Ketiganya, yakni Irman Gusman serta Xaveriandy Sutanto dan istrinya, Memi. 

Irman diduga menerima suap Rp 100 juta dari Xaveriandy dan Memi. Fulus itu sebagai hadiah atas rekomendasi penambahan kuota distribusi gula impor untuk wilayah Sumatera Barat pada 2016 dari Bulog kepada CV Semesta Berjaya.

Irman dijerat selaku penerima suap. Dia disangka melanggar dengan Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b dan atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Sementara itu, Xaveriandy dan Memi ditetapkan sebagai tersangka pemberi suap. Keduanya dijerat dengan Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 UU Tipikor juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.


(OGI)

Video /