Waryono Karno Tuding Anak Buah Otak Korupsi di ESDM

Renatha Swasty    •    Kamis, 10 Sep 2015 00:35 WIB
korupsi di esdm
Waryono Karno Tuding Anak Buah Otak Korupsi di ESDM
Terdakwa kasus dugaan korupsi kegiatan di Kementerian ESDM Waryono Karno membacakan pledoi atau nota pembelaan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (9/9). MI/ROMMY PUJIANTO

Metrotvnews.com, Jakarta: Mantan Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Waryono Karno mengklaim tak pernah meminta biro-biro di bawah untuk mengumpulkan dana. Dia justru menuding Kepala Bidang Pemindahtanganan, Penghapusan, dan Pemanfaatan Barang Milik Negara (PPBMN) Kementerian ESDM Sri Utami yang berinisiatif melakukannya. 

"Sri bermain sendiri dengan kepala biro tersebut tanpa keterlibatan saya. Saya tahu orang mikir masa sih Sekjen tidak tahu ada pengumpulan dana apalagi orang yang dekat Sekjen, tapi saya harus ngomong apa adanya kalau kenyataannya demikian," kata Waryono saat membacakan nota pembelaan atau pledoi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta Selatan, Rabu (9/9/2015). 

Bekas anak buah mantan Menteri ESDM Jero Wacik mengaku kaget selama persidangan jaksa kerap membuktikan ihwal pengumpulan dana di biro-biro Kementerian ESDM untuk keperluan di luar anggaran APBN. Dia mengatakan, bila mengetahui sejak awal, Sri pasti sudah dicopot. 

Meski berhubungan baik dengan Sri , Waryono menambahkan, tak akan memanfaatkannya buat mengumpulkan dana. "Kedekatan dengan Sri Utami adalah profesional. Saya tidak habis pikir Kabiro menyampaikan samar-samar yang bersangkutan untuk yang bersangkutan, saya juga dekat dengan Didi Sutrisnohadi (Kepala Biro Keuangan KESDM) dan sama seperti Kepala Biro dan Kepala Pusat," pungkas dia. 

Waryono didakwa melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama dengan Sri Utami di Kementerian ESDM. Dia dinilai telah merugikan keuangan Negara sebesar Rp11,124 miliar.

"Terdakwa Waryono Karno selaku Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, dan selaku pengguna anggaran pada Sekretariat Jenderal ESDM bersama-sama dengan Sri Utami telah melakukan atau turut serta melakukan beberapa perbuatan yang dipandang sebagai perbuatan melawan hukum," kata Jaksa Penuntut Umum pada KPK, Fitroh Rochyanto di Pengadilan Tipikor, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Kamis 7 Mei lalu.

Fitroh mengungkapkan, Waryono memerintahkan pengumpulan dana untuk membiayai kegiatan di Setjen Kementerian ESDM yang tidak dibiayai APBN. Jaksa menyebut dia menunjuk Sri Utami sebagai Koordinator Kegiatan Sekjen untuk pengumpulan dana-dana tersebut.

Waryono disebut telah memecahkan paket pekerjaan untuk menghindari pelelangan umum dalam kegiatan sosialisasi sektor ESDM bahan bakar minyak bersubsidi pada 2012. Tak hanya itu, Waryono didakwa mengumpulkan uang dari kegiatan sepeda sehat dalam rangka sosialisasi hemat energi, dan perawatan kantor gedung Setjen Kemen ESDM Tahun Anggaran 2012.

"Terdakwa melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau korporasi yakni memperkaya terdakwa sebesar Rp150 juta. Serta memperkaya korporasi yakni Yayasan Pertambangan dan Energi Rp866,5 juta dan 101 perusahaan pinjaman yang seluruhnya Rp945,6 juta. Yang dapat merugikan negara atau perekonomian negara sebesar Rp11,124 miliar atau setidak-tidaknya sekitar jumlah itu," jelas Fitroh.

Terkait perbuatannya, Waryono diancam pidana dalam Pasal 2 ayat (1) jo Pasal 18 Undang-undang RI nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-undang nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 Jo Pasal 65 ayat (1) KUHP dalam dakwaan pertama.


(OGI)