Wakapolri Minta Masjid tak Dijadikan Polemik

Faisal Abdalla    •    Sabtu, 09 Jun 2018 12:46 WIB
radikalisme
Wakapolri Minta Masjid tak Dijadikan Polemik
Wakapolri Komjen Syafruddin - Medcom.id/Faisal Abdalla.

Jakarta: Wakapolri Komjen Syafruddin membantah isu yang menyebut 40 masjid di Jakarta terpapar radikalisme. Syafruddin menegaskan tak ada masjid yang terpapar paham radikal. 

"Saya sudah bantah ya. Saya luruskan dan saya bantah. Karena masjid bukan orang. Saya rasa alamat itu tidak tepat ditujukan kepada masjid. Tempat ibadah dan tempat suci, kita jaga bersama," kata Syafruddin di Kantor Pengurus Pusat (PP) DMI, Jalan Jenggala 1, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu 9 Juni 2018. 

Wakil Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) itu mengaku sudah mengimbau kepada seluruh pengurus masjid, termasuk para takmir dan marbot untuk mengawasi masjid agar tak disusupi oknum-oknum berpaham radikal. Namun begitu, ia menegaskan peran masyarakat juga dibutuhkan. 

Syafruddin mengatakan DMI telah mengadakan program dengan pendekatan halus (soft approach) yang diterapkan di masjid-masjid seperti program ekonomi berbasis masjid dan wisata religi berbasis masjid. Ia meminta masyarakat berperan aktif dalam program-program tersebut. 

Lebih lanjut lagi, Syafruddin mengimbau, kepada semua pihak agar tak menjadikan masjid sebagai polemik, apalagi masjid adalah tempat beribadah. 

(Baca juga: Masjid di DKI Diminta Beri Ceramah Menyejukkan)

"Ini bulan Ramadan. Jangan kita banyak berpolemik di opini publik. Apalagi yang kita polemikan tempat ibadah, masjid. Jangan. Mari kita berhati jernih tulus dan ikhlas. Kami ini semua pengurus masjid, tulus ikhlas mengabdi, menyiapakan tempat dan fasilitas umat islam untuk beribadah supaya khusyuk," tandas dia.  

Sebelumnya, Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno menyebut sebanyak 40 masjid di Jakarta disusupi radikalisme. Sandiaga menyebut memiliki datanya. 

"Itu kami juga sudah punya datanya di teman-teman Biro Dikmental dan Baziz, akan kita arahkan ke kegiatan kita lebih banyak ke sana," kata Sandi di Pulau Untung Jawa, Selasa, 5 Juni 2018.

Sandi mengaku telah turun ke sejumlah masjid. Sandi mengambil kesimpulan kalau salah satu yang dibutuhkan adalah membangkitkan perekonomian lewat masjid. 

Politikus Partai Gerindra ini menyebut salah satu masalah radikalisme adalah terjadinya ketidakadilan dan pemahaman salah yang terus diberikan pada generasi muda. Generasi penerus, kata dia, kerap diajarkan mencari jalan pintas. 

"Tidak ada cara lain selain pendidikan, kedua berikan kesempatan mereka menjadi pengusaha, dan orang yang sukses dengan program OK OCE," ujarnya. 

Isu masjid di Jakarta terpapar radikal mencuat usai Presiden Joko Widodo bertemu dengan sejumlah tokoh agama. Jokowi dan para tokoh berdiskusi tentang dugaan suburnya radikalisme di sejumlah masjid Ibu Kota.

(Baca juga: Jokowi: Penyebaran Radikalisme Sudah Sangat Mengkhawatirkan)
 


(REN)

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

1 week Ago

Uang berasal dari uang pengganti terpidana kasus korupsi proyek KTP-el Andi Agustinus alias And…

BERITA LAINNYA