Fredrich tak Peduli jika Bimanesh Dituntut Lebih Ringan

Faisal Abdalla    •    Jumat, 08 Jun 2018 16:29 WIB
korupsi e-ktpsetya novanto
Fredrich tak Peduli jika Bimanesh Dituntut Lebih Ringan
Terdakwa kasus merintangi penyidikan kasus korupsi KTP elektronik, Fredrich Yunadi, menunjukkan surat kuasa sebagai pengacara terpidana Setya Novanto. Foto: Antara/Muhammad Adimaja.

Jakarta: Terdakwa perkara merintangi penyidikan kasus korupsi KTP elektronik (KTP-el) Fredrich Yunadi enggan menanggapi jika dokter RS Medika Permata Hijau, Bimanesh Sutarjo, dituntut lebih ringan darinya. Fredrich dituntut 12 tahun penjara atas kasus ini. 

"Jadi silakan saja dalam hal ini dituntut bebas juga bukan urusan saya. Karena yang penting saya sama dengan Bimanesh. Bimanesh hanya sebagai seorang dokter, kebetulan dia nanganin kasusnya Setya Novanto," kata Fredrich di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Jumat 8 Juni 2018. 

Fredrich pun membantah kecelakaan yang dialami terpidana kasus korupsi KTP-el, Setya Novanto, pada November 2017 silam adalah rekayasa. Alasannya, kepolisian menilai kejadian itu murni kecelakaan. 

"Apa dalam hal ini KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) berani (mengatakan) polisi merekayasa. Ini kan polisi menyatakan murni kecelakaan," jelas mantan pengacara Novanto. 

Di sisi lain, Fredrich juga enggan mengomentari rencana Bimanesh yang akan mengajukan diri sebagai justice collaborator (JC). Baginya konsep, JC tidak dikenal dalam sistem hukum di Indonesia. 

"JC itu kan hanya kesepakatan, antara Mahkamah Agung, Jaksa Agung, Kepolisian dan KPK. Jadi tidak berlaku lah yang tidak tercantum di UU (undang-undang)," ungkap dia. 

Dalam pemeriksaan di pengadilan, Bimanesh menyebut banyak pasiennya yang kesulitan lantaran dirinya ditahan KPK. Ia bahkan menunjukan testimoni dari para pasiennya kepada majelis hakim dan jaksa penuntut umum di persidangan. 

Baca: Pledoi Belum Siap, Fredrich Minta Sidang Ditunda

Mantan dokter RS Polri itu juga mengaku berat menerima kenyataan yang ia hadapi. Apalagi, selama menjadi dokter ginjal, ia mengabdi untuk membantu pasien-pasiennya bisa sembuh.

Mendengar pengakuan Bimanesh, anggota majelis hakim Mahfuddin mengaku prihatin. "Saudara aset, sudah kerja puluhan tahun. Kita berdoa bersama-sama agar penuntutan jangan sampai maksimal," ungkap hakim.




(OGI)