Allianz Disebut Banyak Berbohong

Whisnu Mardiansyah    •    Sabtu, 30 Sep 2017 20:47 WIB
penipuanasuransiallianz
Allianz Disebut Banyak Berbohong
Kuasa hukum korban penipuan Allianz Life, Alvin Lim (kanan) di Markas Polda Metro Jaya. (Foto: MTVN/Deny Irwanto).

Metrotvnews.com, Jakarta: Kuasa hukum pelapor PT Asuransi Allianz Life, Alvin Lim menilai pihak Allianz banyak berbohong. Pelaporan Allianz ke kepolisian untuk memberi efek jera pada perusahaan asuransi yang membandel.

"Yang diinginkan nasabah saya bukan peduli ke uangnya. Ini lebih pada efek jera. Dia tidak mau ada masyarakat lain ada korban," kata Alvin dalam diskusi di Warung Daun, Jakarta Pusat, Sabtu 30 September 2017.

Alvin menilai apa yang dilakukan Allianz mengakali nasabahnya sudah massal dan terstruktur. Ia menduga masih banyak korban lain selain kliennya.

(Baca juga: YLKI: Kasus Klaim Asuransi Allianz Harus Diusut Tuntas)

Dalam keterangan pihak Allianz, klaim yang diajukan oleh kliennya disebut tengah diproses. Padahal menurut Alvin, Allianz sudah melayangkan surat penolakan atas klaim yang diajukan kliennya, Ifranius Algadri.

"Bagaiamana sesuatu yang sudah ditolak masih dibilang dalam proses. Kalau proses belum ada keputusan," tegas Alvin.

Pada 22 Agustus, Allianz membayar klaim kepada Ifranius. Pembayaran dilakukan setelah adanya laporan resmi ke Polda Metro Jaya pada 18 April 2017. Namun pada hari yang sama, uang klaim dari Allianz itu dikembalikan.

Presiden Direktur PT Asuransi Allianz Life Indonesia, Joachim Wessling dan Manajer Claim PT Asuransi Allianz Life Indonesia, Yuliana Firmansyah, ditetapkan sebagai tersangka. Dalam waktu dekat keduanya akan diperiksa.

(Baca juga: Masyarakat Diimbau Cermat Memilih Asuransi)

Alvin Lim mengatakan, kliennya yang bernama Ifranius Algadri telah melaporkan Joachim dan Yuliana. Ifranius merasa dipersulit saat meminta klaim biaya perawatan rumah sakit.

Alvin menjelaskan, pihak Allianz selalu meminta catatan medis lengkap dari rumah sakit sebagai syarat untuk mencairkan atau klaim. Padahal, rumah sakit tidak pernah memperkenankan memberi catatan medis lengkap karena melanggar Permenkes No 269/Menkes/PER/III/2008 tentang Rekam Medis.

"Karena yang kami permasalahkan bukan lah dibayar atau tidak dibayarnya sebuah klaim. Tetapi bagaimana dia memproses klaim tersebut, ada unsur tipu daya," kata Alvin.

Dalam kasus ini Allianz diduga telah menipu sejumlah nasabahnya dengan proses klaim yang tidak mungkin bisa dipenuhi nasabah. Klaim nasabah akan hangus dalam waktu dua minggu kerja. 

"Kasus ini intinya perusahaan Allianz menggunakan modus tipu daya untuk menolak klaim nasabah secara halus tapi melanggar hukum. Dalam waktu dua minggu tanpa adanya surat lengkap rekam medis, klaim ditolak," terang Alvin.

(Baca juga: OJK Harus Pantau Detail Aturan di Perusahaan Asuransi)

Dalam waktu yang sama, Ifranius mengatakan, dirinya dipersulit dengan adanya aturan yang diminta pihak Allianz. Penolakan klaim biaya rumah sakit oleh Allianz didapatnya setelah menjalani perawatan pada tahun lalu di salah satu rumah sakit swasta.

"Waktu pertama gabung, bilangnya proses klaimnya gampang, 14 hari kerja kita bayarkan. Tapi pada nyatanya klaim saya hingga hari ini tidak dibayarkan. Saya sangat kecewa dengan Allianz," ungkap Ifranius.

Laporan terhadap, Joachim Wessling dan Yuliana Firmansyah tertera dalam Laporan Polisi Nomor: LP/1645/IV/2017/Dit Reskrimsus tanggal 3 April 2017 tentang diduga tindak pidana di bidang perlindungan konsumen dan Laporan Polisi Nomor: LP/1932/IV/2017/PMJ/Dit. Reskrimsus tanggal 18 April 2017.


(HUS)