Wawancara Eksklusif MTVN

Ujaran Kebencian Menyusut 50 Persen

K. Yudha Wirakusuma    •    Jumat, 15 Sep 2017 14:56 WIB
ujaran kebencian
Ujaran Kebencian Menyusut 50 Persen
Divhumas Polri Kombes Slamet Pribadi--Metrotvnews.com/K. Yudha Wirakusuma

Metrotvnews.com, Jakarta: Polri tengah rajin-rajinnya mengusut ujaran kebencian, dan hoax. Salah satunya kelompok Saracen. Kelompok ini disinyalir secara teroganisir melakukan perbuatan ujaran kebencian.

Empat orang berinisial JAS, MTF, SRN dan AD dicokok. Ketiganya ditangkap karena diduga bagian dari organisasi tersebut. Efek dominonya, ujaran kebencian, SARA dan hoax di media sosial menyusut hingga 50 persen.

Berikut petikan wawancara Metrotvnews.com dengan Divhumas Polri Kombes Slamet Pribadi, belum lama ini.

Seberapa banyak ujaran kebencian, SARA dan hoax di media sosial di Indonesia?

Kalau ujaran kebencian banyak sekali di Indonesia. Tapi yang jelas estimasi ketika Saracen ditindak, itu 40-50 persen ujaran kebencian berkurang. Apakah karena Saracen, atau pendindakan ini menimbulkan dampak presensi umum.

Ada berapa jaringan yang mirip dengan Saracen di Indonesia?

Belum bisa kita sampaikan. Yang jelas banyak sekali. Di kepolisian ada Cyber patrol. Itu tugas teman-teman dari cyber crime.

Berdiri tahun berapa?

Awalnya Saracen ada 2006

Yang terbaru soal Saracen?

Soal Saracen ditangkap satu orang lagi atas nama AD, ibu rumah tangga yang sedang nginep di rumah keluarganya di asrama kepolisan. Home base-nya itu di Sulawesi Utara. Sekarang masih didalami penyidik. Penyidik dari awal berkomitmen untuk bekerja sama dengan PPATK. memang ada sistem dalam penyidikan yang modern. memadukan digital forensi atau software analisis dengan analisis transaksi yang mencurigakan.

Baca: Polisi Terus Menyidik Ujaran Kebencian oleh Asma Dewi

Sejauh ini PPATK sudah ada hasil?


Belum ada hasilnya. Kita tidak bisa menyampaikan kepastiannya karena memang di dalam soal rekening itu wewenang pengadilan. Kita tidak bisa membuka rekening, jadi pengadilan yang berwenang.

Apakah AD bisa dikatakan sebagai pemesan?

Sedang kita didalami. Kapolri sudah memerintahkan kepada penyidik siapa pun yang terlibat dalam jaringan itu. Baik aktor intelektual, pelaku atau pembantu pelaku itu harus menjadi bagian sistem penyidikan. itu perintah beliau. Jelas sekali, karena Kapolri sedang mendapatkan perintah pimpinan negara, presiden  bahwa saat ini ujaran kebencian yang bernuansa sara itu diharapkan oleh presiden tidak boleh terjadi di Indonesia. karena itu akan menimbulkan konflik.

Baca: Polisi Telusuri Laporan Hasil Analisis Rekening Saracen

Sudah dijadikan tersangkanya AD, berarti polisi sudah memiliki dua alat bukti, apa saja?

Ya itu kan bagian dari pengembangan. Alat bukti AD ada dugaan ujaran kebencian yang bernuasa sara yang postingannya sekitar bulan Juli tahun 2016. Sementara yang diketahui empat. Mungkin lebih dari itu.

Untuk motifnya apa?

Sementara diketemukan motif ekonomi, motif politik sedang di dalami. AD mengharap ada penghasilan, ada keuntungan.

Ada afiliasi politik?

Masih pengembangan.

Apa langkah penyidik saat ini?

Memperdalam jaringan, melakukan digital forensik.

Setelah AD, apakah ada kemungkinan ada pelaku baru?

Mungkin terjadi, seperti ibu AD ini pengembangan dari tiga orang yang ditangkap. Berdasarkan pemeriksaan maupun software analisisnya.




(YDH)