Perawat Hingga Politikus Diperiksa soal Kasus 'Penyelamatan' Novanto

Arga sumantri    •    Kamis, 11 Jan 2018 14:30 WIB
korupsi e-ktpsetya novanto
Perawat Hingga Politikus Diperiksa soal Kasus 'Penyelamatan' Novanto
Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi di Jakarta. Foto: MI/Rommy Pujianto.

Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah memeriksa 26 saksi dalam kasus upaya merintangi penyidikan korupsi KTP elektronik untuk 'menyelamatkan' tersangka Setya Novanto. Para saksi terdiri dari berbagai elemen profesi. 

Saksi-saksi itu meliputi pegawai rumah sakit Medika Permata Hijau, tempat Novanto sempat dirawat. Perawat, dokter, hingga direktur perusahaan diminta keterangan. KPK juga mengorek informasi dari para politikus.

"Ada saksi dari politikus atau pengurus dari salah satu pengurus DPP partai yang kita proses," kata Kepala Biro Hubungan Masyarakat Febri Diansyah di Gedung KPK, Jakarta Selatan, Kamis, 11 Januari 2018.

Selain itu, KPK juga telah memeriksa Hilman Mattauch dan ajudan Novanto AKP Reza Pahlevi. Keduanya adalah orang yang bersama Novantosaat kecelakaan pada medio November 2017.

"Total 26 itu selama proses penyidikan ya. Kalau sejak selama proses penyelidikan sudah 35 orang saksi dan ahli diperiksa," ucap Febri. 

Baca: KPK Bidik Tersangka Baru Kasus 'Penyelamatan' Novanto

Dalam kasus merintangi penyidikan atau obstruction of justice kasus KTP elektronik, KPK sudah menetapkan dua tersangka. Mereka adalah mantan pengacara Novanto, Fredrich Yunadi, dan dokter RS Medika Bimanesh Sutarjo yang menangani Novanto. 

Keduanya diduga kuat telah menghalang-halangi penyidikan perkara korupsi KTP-el yang menjerat Novanto. Fredrich dan Bimanesh dijerat Pasal 21 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

KPK melalui Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM juga mencegah keduanya bepergian ke luar negeri per 8 Desember 2017. Pencegahan juga diterapkan kepada AKP Reza Pahlevi, M Hilman Mattauch, dan Achmad Rudyansyah.





(OGI)