Ruhut Sitompul Setuju Hukuman Mati untuk Pengedar Narkoba

Anggitondi Martaon    •    Rabu, 03 Aug 2016 16:23 WIB
dpr ads
Ruhut Sitompul Setuju Hukuman Mati untuk Pengedar Narkoba
Ruhut Sitompul. Antara Foto/Puspa Perwitasari

Metrotvnews.com, Jakarta: Pemerintah Indonesia menerapkan hukuman mati bagi pengedar narkoba. Namun, hukuman mati bagi gembong narkoba banyak ditentang beberapa pihak, seperti Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)‎ dan negara-negara yang menentang hukuman mati.

Menanggapi penolakan tersebut, Anggota Komisi III Ruhut Sitompul ‎mengatakan, hukuman mati merupakan hukum positif untuk memberantas narkoba. Menurutnya, hukuman mati sudah dirumuskan dalam Undang Undang (UU) yang dibuat DPR dan pemerintah.

Dia mengajak pihak yang menolak hukuman mati, khususnya LSM untuk menjadi anggota dewan. Sehingga, aspirasi penolakan terhadap hukuman mati bisa dibicarakan dengan baik dan sesuai pada tempatnya.

"Hukuman mati di negara kita adalah hukum positif. Katakanlah kalau kawan-kawan tidak sependapat, kenapa mesti ribut-ribut di luar. UU kan produk pemerintah dan DPR, ya ikut saja bagaimana bisa jadi anggota dewan di daerah kalu mau independen atau partai politik," ‎kata Ruhut di Gedung Nusantara III Komplek Parlemen, Senayan, Rabu (3/8/2016).

Politikus Demokrat itu mengingatkan, seluruh pihak di negeri ini seharusnya menghormati hukum yang berlaku di Indonesia.

"Narkoba ini kan tidak lagi hanya merusak generasi mudah, bahkan orang dewasa, pejabat dan lain sebagainya. Jadi kita ga main-main dengan narkoba ini," kata dia.

Selain itu, Ruhut mengimbau agar negara yang menolak hukuman mati untuk menghargai hukum yang berlaku di Indonesia. Pemerintah, sebut Ruhut, tidak boleh diintervensi oleh pihak luar.

Dengan tegas dia menyatakan, pemerintah harus menjadikan hukum sebagai panglima tertinggi. Apa pun keputusan yang sudah dibuat harus dipatuhi. 

"Nah itu, saya selalu mengatakan jadikanlah hukum panglima jangan kekuasaan. Jadi kalau imbauan berdasarkan kekuasaan dan dari negara-negara lain ikut campur, saya mohon ini terjadi di negara kita," kata dia.


(ABE)