Cerita Miris Keluarga Korban TPPO di Tiongkok

M Sholahadhin Azhar    •    Rabu, 19 Sep 2018 15:47 WIB
perdagangan manusia
Cerita Miris Keluarga Korban TPPO di Tiongkok
Sejumlah kerabat Warga Negara Indonesia (WNI) yang dijual ke Tiongkok di Kantor DPP PSI--Medcom.id/M Sholahadhin Azhar.

Jakarta: Yuni, kerabat Warga Negara Indonesia (WNI) berinisial CEP yang dijual ke Tiongkok, bercerita tentang komunikasi terakhir dengan keponakannya. Melalui sambungan telepon video, CEP mengaku depresi karena terus disekap dan disiksa.

CEP, kata Yuni, disekap, dipaksa menelan obat dan disiksa secara terus menerus. "Tolong mah, jangan sampai nanti bunuh diri di sini," ujar Yuni, menirukan percakapannya dengan ECP, Rabu, 19 September 2018.

CEP merupakan salah satu dari 16 korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) ke Tiongkok. Menurut Yuni, korban kerap curhat lantaran disiksa warga negara Tiongkok yang 'membelinya' itu.

Dari sambungan video aplikasi Whatsapp, keponakannya itu menangis minta dipulangkan. Padahal, kondisinya dalam pemulihan usai operasi sesar. "ECP disiksa terus. Makan seadanya. Ada kacang, jagung, dimakan," imbuh Yuni.

Baca: PSI Desak Pemerintah Pulangkan 16 Korban Perdagangan Orang di Tiongkok

Lebih lanjut ia membeberkan, ECP meminta restu bekerja di Tiongkok. Namun faktanya, korban dijual dan disiksa di sana. Kerabat korban lain bernama Ai Maemunah, ibu dari korban DF, mengaku anaknya ditawari gaji Rp5 juta setiap bulan.

DF, kata Ai, sempat pulang meminta restu ke Purwakarta, lalu kembali ke Jakarta untuk bertolak ke Tiongkok. "Tapi sampai sekarang sudah empat bulan enggak ada kabar," katanya.

Nur Hidayat ayah korban berinisial M, mengaku tertipu dengan agen bernama Vivi yang memberangkatkan anaknya. M yang masih berusia 16 tahun itu, dipaksa menikah dengan warga Tiongkok.

Nur mengaku tak terima lantaran pemaksaan menikah itu menggunakan dokumen izin orang tua yang dipalsukan agen.

Saat ini, Partai Solidaritas Indonesia (PSI), tengah menindaklanjuti kasus tersebut. Anggota jaringan advokasi rakyat Partai Solidaritas Indonesia (Jangkar Solidaritas) Muannas Alaidid menyebut beberapa lokasi dari 16 korban WNI yang disekap, telah diketahui.

"Ada 8 yang identitasnya diindentifikasi ada di provinsi Hainan, 3 di Anhui, sisanya belum diketahui. Posisi sudah diketahui tinggal saya kira pemerintah melalui pihak terkait bisa memulangkan mereka," kata Muannas.


(YDH)

KPK Periksa Eks Pejabat Kemendagri terkait KTP-el

KPK Periksa Eks Pejabat Kemendagri terkait KTP-el

2 weeks Ago

KPK memanggil Sekretaris Direktur Jenderal Administrasi Kependudukan Kementerian Dalam Neg…

BERITA LAINNYA